Malaysia Diminta Segera Bersiap Hadapi Super El Niño yang Diprediksi Muncul November
Baca dalam 60 detik
- Super El Niño diperkirakan melanda Malaysia mulai November, dengan puncak antara November dan Januari, membawa suhu ekstrem dan kekeringan berkepanjangan.
- Ketua Alliance for a Safe Community, Tan Sri Lee Lam Thye, menekankan perlunya persiapan dini lintas sektor untuk mengurangi dampak pada kesehatan, air, pertanian, dan energi.
- Langkah mitigasi mencakup pengelolaan air, pengawasan kebakaran hutan, kesiapsiagaan kesehatan, dan dukungan bagi petani serta jaminan pasokan listrik.

Malaysia menghadapi ancaman Super El Niño yang diprediksi mulai November mendatang, dengan puncak kondisi ekstrem pada November hingga Januari. Tan Sri Lee Lam Thye, Ketua Alliance for a Safe Community, mendesak pemerintah dan masyarakat untuk segera mengambil langkah antisipatif guna meminimalkan dampak buruk terhadap kesehatan, sumber daya air, pertanian, dan perekonomian.
Fenomena iklim ini diperkirakan membawa suhu jauh lebih tinggi, musim kering berkepanjangan, curah hujan menurun, serta risiko kabut asap yang meningkat, terutama setelah musim monsun. Lee mengingatkan bahwa episode El Niño sebelumnya telah menyebabkan krisis air, kebakaran hutan dan lahan gambut, kabut asap lintas batas, penurunan hasil pertanian, serta ancaman terhadap ketahanan pangan.
Kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, pekerja luar ruangan, dan penderita penyakit kronis berisiko tinggi mengalami gangguan kesehatan akibat panas, seperti stres panas dan dehidrasi. Oleh karena itu, pendekatan nasional yang proaktif dan terkoordinasi, melibatkan pemerintah, pelaku usaha, dan publik, menjadi krusial.
Lee menekankan pengelolaan sumber daya air harus diperkuat melalui konservasi, pengurangan kebocoran, perluasan kapasitas penyimpanan, dan rencana kontingensi untuk daerah rawan kekeringan. Ia juga mendesak otoritas meningkatkan pengawasan dan penegakan hukum terhadap pembakaran lahan terbuka serta kebakaran hutan dan gambut, sambil memastikan tim tanggap darurat siap bergerak cepat.
Kesiapsiagaan kesehatan masyarakat perlu ditingkatkan dengan peringatan dini gelombang panas, pendirian pusat pendingin jika diperlukan, dan edukasi publik tentang pencegahan penyakit terkait panas. Dukungan bagi petani juga harus diperbesar melalui sistem irigasi yang lebih baik, bibit tahan kekeringan, bantuan teknis, dan bantuan keuangan untuk mengurangi kerugian akibat cuaca kering berkepanjangan.
Tak kalah penting, Lee menyoroti perlunya menjamin pasokan listrik yang stabil seiring meningkatnya permintaan pendingin ruangan selama periode suhu tinggi. Kampanye kesadaran tentang konservasi air, pencegahan kebakaran, dan tindakan pencegahan kesehatan pribadi juga harus digencarkan. Koordinasi antara pemerintah federal, negara bagian, dan daerah perlu diperkuat agar rencana tanggap darurat dapat diaktifkan dengan cepat jika kondisi memburuk.
Bagi Indonesia, fenomena serupa juga berpotensi terjadi mengingat posisi geografis yang berdekatan. Pengalaman Malaysia dalam menghadapi Super El Niño dapat menjadi pelajaran berharga, terutama dalam hal kesiapsiagaan lintas sektor dan mitigasi dampak pada sektor pertanian serta kesehatan masyarakat. Pertanyaannya, apakah Indonesia sudah memiliki rencana kontingensi yang memadai untuk menghadapi ancaman iklim ekstrem ini?



