Bentrokan Adonara: Tiga Tewas, Dua Korban Dimakamkan, Ratusan Aparat Dikerahkan
Baca dalam 60 detik
- Bentrokan antarwarga di Adonara Timur, Flores Timur, menewaskan tiga orang dan melukai tujuh lainnya, dengan 20 rumah dibakar.
- Dua jenazah telah dimakamkan, sementara satu korban lainnya baru diserahkan ke keluarga setelah evakuasi sempat terhalang massa.
- Polisi masih menyelidiki pemicu konflik dan memperkuat pengamanan dengan tiga pos di titik rawan untuk mencegah bentrokan susulan.

Dua dari tiga korban tewas dalam bentrokan berdarah di Kecamatan Adonara Timur, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, telah dimakamkan pada Sabtu (18/7). Peristiwa yang terjadi sejak pagi itu menyisakan duka mendalam dan kekhawatiran akan eskalasi konflik antarwarga.
Wakapolres Flores Timur, Kompol Ketut Mastina, mengonfirmasi bahwa jenazah Nayamudin Iskandar (21) asal Desa Waiburak dan Petrus Kopong Epit dari Desa Narasaosina sudah dikebumikan oleh keluarga pada hari yang sama. Sementara itu, korban ketiga bernama Hope (60), warga Desa Narasaosina, baru diserahkan kepada pihak keluarga setelah sempat terhambat saat evakuasi.
Jenazah Hope tergeletak di tengah jalan Desa Waiburak dan tidak bisa segera dievakuasi karena dihalangi ratusan massa. Tim medis dan aparat kepolisian baru berhasil menjangkaunya setelah Forkopimda bersama tokoh setempat melakukan negosiasi. Korban diduga tewas akibat sabetan senjata tajam saat bentrokan pecah. Rencananya, jenazah Hope akan dimakamkan pada Minggu (19/7).
Bentrokan yang terjadi sekitar pukul 06.30 WITA itu melibatkan dua kelompok pemuda dari Desa Narasaosina dan Desa Waiburak. Selain korban jiwa, aksi saling serang juga mengakibatkan 20 rumah hangus terbakar dan tujuh orang mengalami luka-luka. Dua korban luka dirujuk ke RSUD Larantuka, sementara dua lainnya dievakuasi ke Lewoleba, Kabupaten Lembata.
Meski situasi keamanan dilaporkan sudah kondusif, aparat tidak mengambil risiko. Ratusan personel gabungan TNI dan Polri masih disiagakan di tiga pos pengamanan, yakni Pos Susteran, Pos Dusun Bele Desa Waiburak, dan Pos Desa Narasaosina. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi bentrokan susulan yang bisa sewaktu-waktu terjadi.
Polisi hingga kini masih menyelidiki akar perselisihan antara dua desa yang bertetangga tersebut. Konflik horizontal semacam ini kerap dipicu oleh sengketa lahan, masalah adat, atau dendam lama yang belum terselesaikan. Di Flores Timur, sejarah panjang konflik antarwarga seringkali memakan korban dan meninggalkan trauma kolektif.
Pemerintah daerah dan tokoh masyarakat diharapkan segera memfasilitasi mediasi agar tidak ada lagi pertumpahan darah. Pertanyaannya, akankah pengamanan ketat dan investigasi polisi cukup meredam potensi ledakan konflik di masa depan?



