Prancis Hajar Jepang 42-15: Dominasi Maul dan Udara Jadi Pembeda
Baca dalam 60 detik
- Prancis menekuk Jepang 42-15 di Tokyo dengan enam try, dua di antaranya dari Maxime Lamothe dan Matthieu Jalibert.
- Kelemahan Jepang pada maul dan duel udara dieksploitasi habis-habisan oleh Prancis, seperti diakui pelatih Eddie Jones.
- Kemenangan ini membawa Prancis ke puncak klasemen sementara Nations Championship, turnamen baru yang akan berlanjut November.

Prancis memastikan kemenangan telak 42-15 atas Jepang dalam laga uji coba yang berlangsung di Stadion Nasional Tokyo, Sabtu (18/7). Enam try berhasil dicetak tim tamu, dengan hooker Maxime Lamothe dan fullback Matthieu Jalibert masing-masing menyumbang dua try. Kemenangan ini menutup leg pertama Nations Championship, turnamen baru yang mempertemukan tim-tim elite rugbi dunia.
Pertandingan berlangsung dengan tempo tinggi dan cenderung kacau, sesuai dengan gaya permainan yang diinginkan kedua tim. Prancis, yang baru saja kalah tipis 32-34 dari Selandia Baru dan menang 42-26 atas Australia, tampil agresif sejak menit awal. Hanya butuh dua menit bagi Lamothe untuk menerobos pertahanan Jepang lewat maul lineout, area yang menjadi momok bagi tuan rumah sepanjang laga.
Jepang sempat memberikan perlawanan. Setelah tertinggal 0-7, mereka membalikkan keadaan lewat penalti Takuro Matsunaga dan try indah dari sayap Kippei Ishida. Namun, keunggulan 8-7 itu hanya bertahan beberapa menit. Jalibert, yang sebelumnya absen latihan karena cedera, memanfaatkan ruang kosong untuk mencetak try setelah Jepang kehilangan satu pemain akibat kartu kuning. Alexandre Roumat dan Maxime Lucu menambah dua try lagi sebelum turun minum, membuat skor menjadi 28-15.
Di babak kedua, Prancis kembali cepat mencetak angka. Lucu memberikan umpan silang kepada Jalibert yang berhasil menjejakkan bola meski sempat kehilangan kendali. Lamothe kemudian menuntaskan try keduanya dari maul yang digerakkan secara kolektif. Meski kehilangan dua pemain karena kartu kuning di kuarter akhir, Prancis tetap mampu mempertahankan keunggulan. Jepang nyaris mencetak try melalui pemain pengganti Tiennan Costley, tetapi wasit menganulirnya karena gerakan ganda.
Pelatih Jepang, Eddie Jones, secara blak-blakan mengakui kelemahan timnya. "Kami kalah telak di dua area yang sangat memengaruhi hasil: maul dan duel udara. Namun, saya puas dengan komitmen pemain yang terus berjuang hingga akhir," ujarnya dalam konferensi pers usai pertandingan. Jepang sebelumnya mencatat hasil positif dengan mengalahkan Italia 27-10 dan memberikan perlawanan sengit kepada Irlandia (kalah 20-36) di Australia.
Bagi penggemar rugbi di Indonesia, pertandingan ini menjadi tontonan menarik karena memperlihatkan perbedaan level antara tim papan atas Eropa dan Asia. Meski Jepang terus berkembang di bawah asuhan Eddie Jones, mereka masih kesulitan menghadapi fisik dan strategi tim sekelas Prancis. Nations Championship, yang merupakan kompetisi baru, diharapkan dapat meningkatkan popularitas rugbi di kawasan Asia, termasuk Indonesia yang tengah mengembangkan olahraga ini.
Dengan hasil ini, Prancis memuncaki klasemen sementara Nations Championship. Turnamen akan memasuki jeda dan kembali bergulir pada November mendatang, sebelum puncak acara di London. Pertanyaan besarnya: mampukah Jepang memperbaiki kelemahan fundamental mereka sebelum menghadapi lawan-lawan tangguh lainnya? Atau justru Prancis akan terus mendominasi dengan permainan maul dan udara yang mematikan?



