Andy Burnham Resmi Pimpin Partai Buruh Inggris: Janji Harapan Baru di Tengah Krisis
Baca dalam 60 detik
- Andy Burnham, mantan Wali Kota Manchester Raya, ditetapkan sebagai pemimpin Partai Buruh tanpa lawan setelah meraih 379 dari 403 suara anggota parlemen partai.
- Burnham berjanji mengembalikan harapan publik dan memindahkan kekuasaan dari London ke daerah, namun menghadapi tantangan ekonomi berat seperti yang dialami pendahulunya.
- Ia akan menjadi perdana menteri ketujuh Inggris sejak 2016, menandai ketidakstabilan politik yang berpotensi mempengaruhi kebijakan luar negeri termasuk hubungan dengan Indonesia.

Andy Burnham resmi dinobatkan sebagai pemimpin baru Partai Buruh Inggris pada Jumat (18/7) dan akan segera menggantikan Keir Starmer sebagai perdana menteri pekan depan. Dalam pidato perdananya, Burnham berjanji mengembalikan harapan bagi rakyat Inggris yang lelah dengan politik dan menghidupkan kembali pemerintahan yang tengah terpuruk.
Mantan Wali Kota Manchester Raya itu menjadi satu-satunya kandidat dalam kontestasi kepemimpinan partai berhaluan kiri-tengah tersebut setelah Starmer dipaksa mundur akibat pemberontakan internal. Pengumuman Jumat hanyalah formalitas belaka, karena Burnham telah mengamankan dukungan dari 379 dari 403 anggota parlemen Buruh di House of Commons. Ia akan menghadap Raja Charles III pada Senin untuk secara resmi ditunjuk membentuk pemerintahan.
Burnham mewarisi situasi yang tidak mudah. Partai Buruh, yang dua tahun lalu memenangkan pemilu dengan gemilang, kini terus tertinggal dari partai anti-imigrasi Reform UK dalam jajak pendapat. Hasil bencana di pemilu lokal Mei lalu menjadi pemicu utama tekanan yang akhirnya menjatuhkan Starmer. Burnham dianggap sebagai komunikator yang lebih baik dibanding pendahulunya yang dikenal kaku, namun ia menghadapi masalah serupa: ekonomi yang lesu, tekanan biaya hidup akibat perang di Ukraina dan Timur Tengah, serta layanan publik yang kelelahan.
Dalam pidatonya, Burnham menekankan pentingnya desentralisasi kekuasaan. "Kami akan mengambil kembali kekuasaan dari Westminster dan Whitehall dan memberikannya ke tempat Anda tinggal," ujarnya. Ia berjanji mendorong "pertumbuhan yang baik di setiap kode pos" dan memberikan "lebih banyak kendali atas kebutuhan pokok kehidupan". Ia juga berkomitmen memperbaiki akses perawatan sosial yang timpang, isu pelik yang telah lama membingungkan pemerintahan Buruh dan Konservatif sebelumnya.
Burnham menyebut masa jabatannya sebagai "momen perubahan paling signifikan dalam politik kita selama 40 tahun". Ia mengkritik kebijakan era Margaret Thatcher pada 1980-an yang memusatkan kekuasaan politik dan memprivatisasi ekonomi, yang menurutnya telah menguras kekuasaan dari komunitas lokal. "Perlahan, kadang tak terasa, selama empat dekade, kekuasaan politik dan ekonomi mengalir keluar dari komunitas kita," katanya. Ia berjanji membalikkan arah tersebut dengan fokus pada pembaruan ekonomi, kontrol publik yang lebih besar atas sektor-sektor kunci, dan penciptaan lapangan kerja industri modern.
Bagi Indonesia, pergantian kepemimpinan di Inggris ini patut dicermati. Inggris merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia di Eropa, dengan nilai perdagangan bilateral mencapai miliaran dolar. Selain itu, kebijakan luar negeri Inggris pasca-Brexit yang lebih aktif di Indo-Pasifikโtermasuk kerja sama pertahanan dan investasiโbisa berubah di bawah Burnham. Meski belum banyak mengungkap detail kebijakan luar negeri, pengalamannya sebagai wali kota dan fokusnya pada desentralisasi bisa berarti perhatian yang lebih besar pada kerja sama dengan daerah-daerah di Indonesia, bukan hanya pemerintah pusat.
Serikat pekerja menyambut baik penekanan Burnham pada standar hidup, namun mengingatkan bahwa ujian sebenarnya adalah kemampuan merealisasikan janji. Kelompok bisnis Confederation of British Industry memuji fokusnya pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menekankan bahwa "tantangannya ada pada eksekusi". Dengan popularitas yang masih rendah dan tekanan dari berbagai sisi, pertanyaan besarnya adalah: akankah Burnham mampu menghindari nasib yang sama seperti Starmer, atau justru menjadi perdana menteri yang membawa stabilitas setelah satu dekade kekacauan?



