Serangan Balas-Membalas Ukraina-Rusia Tewaskan 10 Orang, Diplomasi Kian Buntu
Baca dalam 60 detik
- Setidaknya 10 orang tewas dalam rentetan serangan udara dan drone di kedua sisi perbatasan Ukraina-Rusia pada Jumat (17/7), dengan korban sipil mendominasi.
- Rusia menggencarkan serangan ke pelabuhan Ukraina di Laut Hitam, sementara Ukraina membalas dengan drone di wilayah Rusia dan daerah pendudukan.
- Upaya damai yang dijembatani AS terhenti karena fokus Washington beralih ke konflik dengan Iran, membuat prospek gencatan senjata semakin suram.

Setidaknya sepuluh orang kehilangan nyawa dalam gelombang serangan yang saling dilancarkan Rusia dan Ukraina pada Jumat (17/7), menandai eskalasi terbaru dari konflik yang telah berlangsung lebih dari empat tahun. Korban jiwa tersebar di sejumlah kota, mulai dari Odesa di pesisir Laut Hitam hingga Belgorod di Rusia barat daya, mempertegas pola perang yang kian tidak mengenal batas geografis.
Di Ukraina, serangan rudal Rusia menghantam sebuah bangunan tempat tinggal di Odesa, menewaskan dua orang dan melukai delapan lainnya. Wakil Wali Kota Odesa, Oleksandr Filatov, mengonfirmasi bahwa seorang perempuan yang sedang berjalan di taman bersama anak-anak menjadi salah satu korban tewas. "Anak-anak selamat dan mendapat perawatan yang diperlukan," demikian pernyataan layanan darurat setempat. Selain bangunan hunian, serangan itu juga merusak tempat ibadah, fasilitas prasekolah, dan sejumlah kendaraan. Tak lama berselang, serangan kedua di pelabuhan Mykolaiv menewaskan dua orang di atas kapal sipil berbendera asing serta merusak dua kapal asing lainnya. Jaksa setempat menyebut kapal-kapal itu tengah berlabuh saat terkena serangan.
Rusia membantah menargetkan warga sipil dan menyatakan bahwa serangan mereka menyasar infrastruktur militer di Ukraina selatan. Namun, data di lapangan menunjukkan pola berbeda. Dalam beberapa pekan terakhir, Moskow memang meningkatkan intensitas serangan udara ke pelabuhan-pelabuhan Ukraina di Laut Hitam, yang menjadi jalur vital ekspor gandum dan komoditas lainnya. Di Kherson, kota di garis depan, seorang perempuan berusia 70 tahun tewas dan lima lansia lainnya luka-luka akibat serangan Rusia, menurut administrasi militer setempat.
Sementara itu, Ukraina tidak tinggal diam. Dua orang tewas dalam serangan drone Ukraina di sebuah jalan bebas hambatan di wilayah Kherson yang diduduki Rusia, demikian diungkapkan gubernur yang ditunjuk Moskow, Vladimir Vasilenko. Di wilayah Belgorod, Rusia, seorang pria tewas setelah drone menghantam mobilnya. Satu korban jiwa lainnya dilaporkan di Gorlivka, kota di Ukraina timur yang dikuasai Rusia, akibat serangan Ukraina. Pola serangan ini menunjukkan bahwa Ukraina kini mampu menjangkau target di dalam wilayah Rusia dan daerah pendudukan secara lebih sistematis.
Eskalasi ini terjadi di tengah kebuntuan diplomasi yang semakin nyata. Perundingan yang sempat dijembatani Amerika Serikat praktis beku sejak Washington mengalihkan perhatiannya ke perang melawan Iran. Tanpa tekanan diplomatik yang berarti, kedua pihak terus saling menghantam tanpa ada tanda-tanda de-eskalasi. Bagi Indonesia, konflik yang berkepanjangan ini berdampak langsung pada harga energi dan pangan global. Ukraina dan Rusia sama-sama pemasok utama gandum dan minyak bumi; gangguan di pelabuhan Laut Hitam berpotensi memicu lonjakan harga komoditas yang dirasakan hingga ke pasar domestik.
Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah komunitas internasional menghidupkan kembali meja perundingan di tengah fragmentasi geopolitik yang kian tajam? Atau, konflik ini akan terus berlarut-larut dengan korban sipil sebagai taruhan utamanya?



