Prancis Blokir Polymarket: Judi Prediksi Makin Dikepung Regulator Global
Baca dalam 60 detik
- Otoritas perjudian Prancis memerintahkan ISP memblokir akses ke Polymarket, platform taruhan prediksi yang tengah naik daun.
- Langkah ini mengikuti jejak Spanyol dan tekanan dari regulator AS, menyoroti kekhawatiran akan kerugian konsumen dan potensi manipulasi pasar.
- Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal perlunya kewaspadaan terhadap platform serupa yang mungkin menjamur dan belum diatur secara spesifik.

Prancis resmi memblokir akses ke Polymarket, platform taruhan prediksi berbasis blockchain, setelah otoritas perjudian negara itu menilai situs tersebut melanggar aturan perjudian yang berlaku. Keputusan ini diumumkan pada Jumat, 17 Juli 2026, dan langsung berlaku dengan memerintahkan penyedia layanan internet (ISP) di Prancis untuk memutus akses pengguna ke domain Polymarket.
Otoritas Perjudian Nasional Prancis (ANJ) dalam pernyataannya menyebutkan bahwa Polymarket menawarkan layanan taruhan ilegal yang tidak memiliki izin resmi. Regulator khawatir platform ini dapat mengekspos pengguna pada kerugian finansial yang signifikan, terutama karena beberapa jenis taruhan yang tersedia rentan terhadap manipulasi. “Situs ini, yang menarik banyak pengunjung, mempromosikan penawaran perjudian dan taruhan ilegal,” demikian bunyi pernyataan resmi ANJ.
Langkah Prancis ini bukanlah yang pertama. Pada Mei lalu, Spanyol juga mengambil tindakan serupa dengan melarang sementara Polymarket dan Kalshi, pesaing utamanya, beroperasi di negara tersebut. Sementara itu, di Amerika Serikat, Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas (CFTC) pada Juni merilis draf regulasi baru yang secara khusus menyasar industri pasar prediksi. Regulator di berbagai negara semakin ketat mengawasi platform yang memungkinkan pengguna bertaruh pada berbagai peristiwa, mulai dari hasil pertandingan olahraga, pemilu, hingga peristiwa geopolitik seperti perang di Iran dan Ukraina.
Polymarket, yang berbasis di Amerika Serikat, telah mencatat pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa pendapatan tahunan Polymarket telah melampaui angka 1 miliar dolar AS. Popularitasnya didorong oleh kemudahan akses dan anonimitas yang ditawarkan, namun justru hal ini yang menjadi sorotan regulator. ANJ secara spesifik menyoroti adanya taruhan terkait cuaca yang diduga menggunakan informasi orang dalam, menunjukkan celah serius dalam integritas platform.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan potensi risiko dari platform taruhan prediksi yang belum diatur secara spesifik. Meskipun perjudian dilarang di Indonesia, akses ke situs semacam Polymarket masih mungkin dilakukan melalui berbagai cara. Maraknya platform berbasis blockchain dan kripto membuat pengawasan menjadi semakin kompleks. Otoritas terkait di Indonesia, seperti Kominfo dan Bappebti, perlu mewaspadai potensi masuknya platform serupa yang menyamar sebagai “pasar prediksi” atau “platform analisis” namun pada praktiknya menawarkan taruhan uang sungguhan.
Polymarket sendiri belum memberikan tanggapan resmi atas pemblokiran di Prancis. Juru bicara regulator Prancis menegaskan bahwa akses akan tetap diblokir selama platform tersebut dinilai tidak mematuhi aturan perjudian negara. Sementara itu, para pengamat memperkirakan tekanan regulasi terhadap industri ini akan terus meningkat, terutama jika platform seperti Polymarket dan Kalshi tidak segera menyesuaikan diri dengan kerangka hukum di masing-masing negara.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah langkah Prancis akan diikuti oleh negara-negara lain, termasuk di Asia Tenggara. Jika tren ini berlanjut, masa depan pasar prediksi sebagai instrumen spekulatif mungkin akan menghadapi batasan yang jauh lebih ketat, atau justru mendorong inovasi platform yang lebih patuh terhadap regulasi. Bagi investor dan pengguna di Indonesia, perkembangan ini layak dicermati sebagai indikator arah kebijakan global terhadap sektor yang masih abu-abu secara hukum.



