IHSG Menguat di Tengah Badai Bursa Asia, Apakah Dana Asing Mulai Berpaling ke Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- IHSG ditutup naik 1,1% pada Jumat (17/7) ke level 6.173,53, berbanding terbalik dengan bursa Asia lain yang tertekan aksi jual saham teknologi.
- Aliran dana asing tercatat net buy Rp638,6 miliar, dengan saham perbankan menjadi primadona, memicu spekulasi rotasi dana dari Jepang dan Korea Selatan.
- Analis melihat potensi portfolio rebalancing global ke pasar dengan valuasi lebih menarik, termasuk Indonesia, meski belum bisa dipastikan sebagai tren jangka panjang.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup perdagangan akhir pekan dengan penguatan signifikan di saat bursa Asia lainnya justru terpuruk. Pada Jumat (17/7/2026), IHSG melesat 67,32 poin atau 1,1% ke level 6.173,53, menjadikannya salah satu dari sedikit pasar yang mencatatkan kinerja positif di kawasan.
Penguatan ini terjadi di tengah aksi jual besar-besaran di bursa Jepang, China, dan Australia. Nikkei 225 Jepang ambles 4%, CSI 300 China merosot 3,6%, dan S&P/ASX 200 Australia turun 0,5%. Tekanan terutama berasal dari sektor teknologi dan semikonduktor, yang ikut menyeret bursa Eropaโsaham ASML, ASMI, dan Infineon kompak terkoreksi tajam. Sementara itu, bursa Korea Selatan tutup karena hari libur nasional.
Di tengah gejolak global itu, aliran dana asing justru deras masuk ke Indonesia. Data mencatat net buy asing di seluruh pasar mencapai Rp638,6 miliar, dengan saham perbankan menjadi incaran utama. Nilai transaksi harian mencapai Rp16,32 triliun dengan volume 24,04 miliar saham, sementara kapitalisasi pasar naik menjadi Rp10.749 triliun. Aktivitas ini memicu pertanyaan: apakah terjadi rotasi dana dari Jepang dan Korea Selatan ke Indonesia?
Analis Panin Sekuritas, Elandry Pratama, menilai belum bisa disimpulkan bahwa telah terjadi rotasi dana asing secara masif. Menurutnya, pelemahan di Jepang dan Korea lebih banyak dipicu tekanan pada sektor teknologi global, bukan semata-mata karena perpindahan modal. Namun, ia mengakui bahwa secara global terdapat potensi portfolio rebalancing ke pasar dengan valuasi lebih menarik, dan Indonesia masuk dalam daftar tujuan potensial.
Senada, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai perpindahan dana ke Indonesia tetap mungkin terjadi. Ia menyoroti ekspektasi kenaikan suku bunga di Korea Selatan yang bisa menjadi sentimen negatif bagi pasar saham negara tersebut, yang sepanjang tahun ini telah mencatatkan kinerja kuat. "Korea Selatan kan pelaku ekonominya mau naikin suku bunga, akan jadi sentimen buruk ke pasar saham mereka yang memang sudah jagoan di tahun ini," ujarnya.
Bagi investor Indonesia, situasi ini membuka peluang sekaligus risiko. Di satu sisi, masuknya dana asing dapat mendorong IHSG lebih tinggi, terutama jika rotasi global benar-benar terjadi. Di sisi lain, ketergantungan pada sentimen eksternal membuat pasar domestik rentan jika tekanan di sektor teknologi global berlanjut. Analis menyarankan investor untuk mencermati pergerakan saham perbankan sebagai indikator utama, mengingat sektor ini menjadi tujuan utama aliran dana asing.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah penguatan IHSG ini hanya bersifat sementara atau menjadi awal tren baru. Dengan valuasi yang relatif lebih murah dibandingkan beberapa negara tetangga, Indonesia memang memiliki daya tarik tersendiri. Namun, tanpa katalis domestik yang kuat, seperti perbaikan fundamental ekonomi atau kebijakan pro-pasar, rotasi dana asing bisa berbalik arah sewaktu-waktu. Pasar akan terus memantau perkembangan di sektor teknologi global dan kebijakan moneter negara-negara maju sebagai penentu arah selanjutnya.



