Andy Burnham Resmi Jadi Perdana Menteri Inggris Ketujuh dalam Satu Dekade
Baca dalam 60 detik
- Andy Burnham terpilih sebagai pemimpin Partai Buruh dan akan menggantikan Keir Starmer sebagai perdana menteri pada Senin mendatang.
- Burnham berjanji mendesentralisasi kekuasaan dari Westminster ke daerah-daerah untuk meredam dukungan terhadap partai populis Reform UK.
- Pemilu berikutnya paling lambat 2029, dan Burnham harus segera merealisasikan janji-janji jangka panjangnya untuk memulihkan elektabilitas Buruh.

Andy Burnham, yang dijuluki 'Raja Utara', resmi terpilih sebagai pemimpin Partai Buruh Inggris dalam konferensi khusus pada Jumat (17/7) lalu. Langkah ini sekaligus menjadi batu loncatan baginya untuk menjadi perdana menteri ketujuh Inggris dalam satu dekade terakhir, menggantikan Keir Starmer yang akan lengser pada Senin mendatang.
Dalam pidato kemenangannya, Burnham menekankan misinya untuk mengembalikan harapan bagi masyarakat di daerah-daerah yang selama ini terabaikan. Ia berjanji akan memindahkan pusat kekuasaan dari Westminster ke berbagai wilayah Inggris, sebuah langkah yang ia yakini dapat mengurangi kesenjangan dan kemarahan yang selama ini mendorong pemilih beralih ke partai populis seperti Reform UK pimpinan Nigel Farage.
Burnham, yang sebelumnya menjabat sebagai Wali Kota Greater Manchester, mengaku siap memimpin dan akan bekerja dengan tim yang bersatu. "Kami bersatu dan kami menempatkan kekuatan yang berasal dari persatuan itu untuk melayani orang-orang dan tempat-tempat yang sudah terlalu lama menunggu politik untuk memberi mereka harapan lagi," ujarnya di hadapan para anggota parlemen dan pejabat partai.
Meskipun Burnham tidak memiliki lawan dalam kontestasi internal partai, pidatonya belum banyak merinci prioritas kebijakan spesifik. Ia hanya menyebutkan agenda domestik yang ingin ia jalankan, termasuk desentralisasi kekuasaan yang ia sebut sebagai "rebalancing kekuasaan terbesar" ke daerah-daerah. Langkah ini diyakini dapat mengurangi ketimpangan dan meredam dukungan terhadap Reform UK serta Partai Hijau yang mulai menggerogoti basis pemilih Buruh.
Burnham menegaskan bahwa Partai Buruh tidak akan mencoba mengalahkan partai-partai lain dengan cara meniru mereka. "Kami tidak akan mencoba mengalahkan Hijau dengan menjadi lebih hijau, atau mengalahkan Reform dengan menjadi lebih Reform. Sebaliknya, kami akan menjadi diri kami sendiri dengan berani, percaya diri, dan autentikโyaitu Buruh," tegasnya.
Kekhawatiran akan bangkitnya Reform UK menjadi alasan utama para anggota parlemen Buruh mendukung Burnham. Dalam beberapa bulan terakhir, partai pimpinan Nigel Farage itu konsisten memuncaki jajak pendapat, mengancam kursi-kursi aman Buruh. Namun, citra Reform UK belakangan tercoreng setelah Farage menerima dana dari donor kaya, yang bisa menjadi celah bagi Burnham untuk membalikkan keadaan.
Dengan waktu kurang dari tiga tahun menuju pemilu berikutnya, Burnham harus segera merealisasikan janji-janjinya. Ia berkomitmen untuk mulai bekerja pada pekan depan. "Pemerintahan yang saya pimpin akan dengan percaya diri menetapkan jalan itu, mulai minggu depan. Dan inilah mengapa perubahan hari ini adalah momen perubahan paling signifikan dalam politik kita selama 40 tahun," katanya.
Bagi Indonesia, perubahan kepemimpinan di Inggris ini patut dicermati. Inggris merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia di Eropa, dan kebijakan desentralisasi Burnham bisa berdampak pada kerja sama perdagangan dan investasi antara kedua negara. Selain itu, sikap Burnham yang lebih pro-rakyat kecil dan daerah bisa membuka peluang bagi produk-produk Indonesia untuk masuk ke pasar Inggris yang lebih merata.
Pertanyaan besarnya sekarang: mampukah Burnham mengembalikan kepercayaan publik dan menghentikan laju Reform UK? Atau justru janji-janji besarnya hanya akan menjadi retorika belaka? Publik akan menunggu langkah konkretnya dalam beberapa pekan ke depan.



