Astra International Gelontorkan Rp8 Triliun untuk Buyback, Isyaratkan Keyakinan di Tengah Tekanan Saham
Baca dalam 60 detik
- Pemegang saham Astra International (ASII) menyetujui program pembelian kembali saham senilai Rp8 triliun, salah satu buyback terbesar di bursa tahun ini.
- Langkah ini dilakukan saat harga saham ASII tertekan 23% year-to-date dan laba kuartal I-2026 turun 16%, menunjukkan upaya perseroan menopang kepercayaan investor.
- Buyback didanai kas internal dan berlangsung 12 bulan, dengan alokasi sebelumnya yang belum terserap penuh, mengindikasikan strategi alokasi modal yang hati-hati.

PT Astra International Tbk. (ASII) mendapat restu pemegang saham untuk menjalankan program pembelian kembali saham senilai Rp8 triliun, menandai salah satu aksi korporasi terbesar di bursa saham Indonesia tahun ini. Persetujuan itu diperoleh dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar Jumat (17/7/2026), saat harga saham emiten konglomerasi ini masih terperosok di zona merah.
Buyback tahap keempat ini akan dijalankan sesuai Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 29/2023, dengan dana murni dari kas internal—bukan pinjaman atau hasil penawaran umum. Manajemen menegaskan bahwa jumlah saham yang dibeli kembali tidak akan melampaui 10% dari modal ditempatkan dan disetor, serta menjaga free float di atas 15%. Program ini dijadwalkan berlangsung selama 12 bulan ke depan.
Langkah ini bukan yang pertama. Sejak November 2025, Astra telah mengakumulasi sekitar 563,5 juta saham treasuri dari tiga periode buyback. Pada periode ketiga (16 Maret–15 Juni 2026), perseroan merealisasikan pembelian 153,4 juta saham senilai Rp810,7 miliar, atau sekitar 40,5% dari alokasi Rp2 triliun. Artinya, masih ada sisa anggaran yang belum digunakan, dan buyback baru ini menunjukkan komitmen berkelanjutan untuk mengoptimalkan alokasi modal.
Keputusan buyback muncul di tengah tekanan harga saham ASII yang masih berada di level Rp5.150 per saham, terkoreksi 23% sejak awal tahun. Dibandingkan puncak 52 minggu di Rp7.475, harga saat ini sudah terpangkas 31%. Tekanan jual asing pun masih deras: berdasarkan data Stockbit Sekuritas, ASII mencatat net foreign sell terbesar kedua pada sesi I hari ini, mencapai Rp86,44 miliar.
Dari sisi fundamental, Astra masih bergulat dengan penurunan laba. Pada kuartal I-2026, laba bersih konsolidasian tercatat Rp5,85 triliun, susut 16% dibandingkan periode sama tahun lalu. Pendapatan bersih juga turun 6% menjadi Rp78,67 triliun. Penyebab utama adalah segmen alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi (HEMCE) yang labanya ambles 79% menjadi hanya Rp408 miliar, akibat volume lebih rendah dan minimnya kontribusi dari bisnis pertambangan emas.
Namun, dua lini bisnis utama Astra justru menunjukkan ketahanan. Segmen otomotif dan mobilitas mencatat kenaikan laba 4% menjadi Rp2,36 triliun, sementara jasa keuangan tumbuh 6% menjadi Rp2,26 triliun, ditopang portofolio pembiayaan konsumen yang menguat. Tanpa memperhitungkan beban non-recurring dan penyesuaian nilai wajar, laba bersih Grup Astra hanya turun 8% menjadi Rp6,8 triliun.
Presiden Direktur Astra, Rudy, dalam keterangan resmi menyampaikan apresiasi kepada pemangku kepentingan. Ia juga menggarisbawahi bahwa penurunan laba kuartal I terutama disebabkan oleh kinerja divisi alat berat dan pertambangan, sementara bisnis lain mampu mengimbangi sebagian tekanan. Manajemen memperkirakan kondisi pasar masih penuh tantangan akibat ketegangan geopolitik global, dan pada Mei 2026 Astra telah mengumumkan prioritas pada tiga lini bisnis utama—otomotif, jasa keuangan, serta alat berat dan solusi pertambangan—yang menyumbang sekitar 90% laba perseroan.
Bagi investor di Indonesia, buyback jumbo ini bisa dibaca sebagai sinyal bahwa manajemen percaya harga saham saat ini berada di bawah nilai intrinsik. Namun, efektivitasnya akan sangat tergantung pada kemampuan Astra memperbaiki kinerja fundamental, terutama di segmen HEMCE yang masih tertekan. Dengan sisa anggaran buyback sebelumnya yang belum terserap penuh, pertanyaan yang mengemuka: apakah buyback Rp8 triliun ini akan benar-benar direalisasikan penuh, atau sekadar menjadi bantalan psikologis di tengah arus jual asing?



