China Daily Unggah Video AI Hina Filipina, Manila Murka
Baca dalam 60 detik
- Media China Daily memposting video buatan AI yang menggambarkan Filipina sebagai monyet penakut yang didorong AS dan Jepang ke konflik Laut China Selatan.
- Pemerintah Filipina mengecam konten tersebut sebagai rasis dan dehumanisasi, serta meminta penghapusan unggahan itu.
- Insiden ini memanaskan kembali ketegangan bilateral di tengah peringatan satu dekade putusan arbitrase Laut China Selatan yang diabaikan Beijing.

Manila mengecam keras unggahan video buatan kecerdasan buatan (AI) oleh media China Daily yang menggambarkan Filipina sebagai monyet penakut—sebuah sindiran yang dinilai merendahkan martabat bangsa dan memicu ketegangan diplomatik baru di kawasan.
Video yang tayang pada 10 Juli itu memperlihatkan seekor monyet berbaju khas Filipina berteriak saat lengan bergambar bendera Jepang dan Amerika Serikat mendorongnya ke atas panggung karaoke reyot di atas perahu. Setelah ditegur karena menyanyikan lagu yang salah, monyet itu mengeluarkan secarik kertas bertuliskan "putusan arbitrase Laut China Selatan", lalu dilempar ke laut dan disemprot meriam air.
Kementerian Luar Negeri Filipina menyebut konten tersebut "tidak manusiawi dan rasis". Dalam pernyataan resmi, Manila mendesak agar video itu segera dihapus. "Perbedaan pandangan hukum dan politik tidak membenarkan penggunaan citra yang mengganggu, yang tidak pantas dalam diskusi publik yang beradab dari negara yang bertanggung jawab," demikian bunyi pernyataan tersebut, seraya menambahkan bahwa "citra dan misinformasi semacam itu hanya memperlebar ketidakpercayaan antara Filipina dan China."
Kementerian Pertahanan Filipina bahkan menyebut video itu sebagai "propaganda tercela" yang "memperlihatkan kebangkrutan moral dan intelektual mesin propaganda China". Menteri Pertahanan Gilbert Teodoro secara terang-terangan mengecam "perilaku skizofrenik Partai Komunis China" yang dinilainya semakin sulit diabaikan.
Ketegangan di Laut China Selatan sebenarnya sudah memanas jauh sebelum video ini muncul. Titik sengketa utama adalah Kepulauan Spratly dan Scarborough Shoal (dikenal China sebagai Huangyan Island), yang terletak sekitar 160 kilometer dari Filipina dan 800 kilometer dari China. Dalam beberapa tahun terakhir, adu mulut dan adu fisik antara kapal kedua negara kerap terjadi, bahkan melibatkan senjata tradisional seperti pedang, tombak, dan pisau.
Pada Juni lalu, Beijing memasang penghalang apung di pintu masuk Scarborough Shoal yang kemudian dicopot setelah Filipina mengajukan protes diplomatik. Di bulan yang sama, China melarang Menteri Pertahanan Teodoro dan keluarganya memasuki daratan China, Hong Kong, dan Makau.
Video monyet ini merupakan bagian dari rangkaian konten satire China Daily yang mengejek sikap Filipina di Laut China Selatan. Dalam keterangan unggahannya, China Daily kembali menegaskan posisi Beijing bahwa "putusan arbitrase Laut China Selatan yang disebut-sebut itu bukanlah obat bagi perdamaian, melainkan sumber konfrontasi yang dibalut hukum". Media itu juga menuduh Filipina "berpegang pada kekuatan asing dan membuat masalah di Laut China Selatan, menjadikan negara mereka pion dalam permainan geopolitik orang lain."
Bagi Indonesia, eskalasi ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga stabilitas di kawasan. Sebagai negara yang juga memiliki klaim tumpang tindih di Laut China Selatan, Jakarta berkepentingan agar sengketa tidak berujung pada konflik terbuka yang dapat mengganggu jalur perdagangan dan keamanan regional. Pemerintah Indonesia selama ini konsisten mendorong penyelesaian damai melalui dialog dan penghormatan terhadap hukum internasional.
Hingga berita ini diturunkan, otoritas China belum memberikan tanggapan resmi atas kecaman Filipina. Namun, dengan sejarah panjang saling serang melalui propaganda dan aksi di lapangan, pertanyaan besarnya adalah: akankah gelombang konten provokatif ini memicu bentrokan yang lebih serius di Laut China Selatan?



