IHSG Bangkit ke 6.108, Asing Borong Saham, Tiga Emiten Siapkan Aksi Korporasi
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan ditutup menguat 1,1% didorong beli bersih asing Rp1,22 triliun, dengan sektor teknologi memimpin kenaikan.
- Tower Bersama (TBIG) akan ekspansi ke bisnis Network Access Point dengan investasi awal Rp47,4 miliar, target IRR 18,65%.
- Pinago Utama (PNGO) dan Habco Trans Maritima (HATM) masing-masing menjalani tender wajib dan rights issue, berpotensi mengubah struktur kepemilikan publik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mempertahankan momentum penguatannya pada perdagangan Kamis (16/7), ditutup naik 1,10% ke level 6.108,21. Kenaikan ini tidak terlepas dari aksi beli bersih investor asing yang mencapai Rp283,41 miliar di pasar reguler dan total Rp1,22 triliun di seluruh pasar, menandakan kepercayaan asing terhadap prospek pasar modal Indonesia mulai pulih.
Seluruh 11 sektor di Bursa Efek Indonesia kompak menghijau, dengan sektor teknologi memimpin penguatan sebesar 1,94%. Saham-saham berkapitalisasi besar seperti ASII, BMRI, dan BBCA menjadi motor utama penggerak indeks, sementara UNTR, VKTR, dan AMRT justru menjadi pemberat. Arus dana asing terutama mengalir ke sektor perbankan dan emiten komoditas, termasuk transaksi negosiasi pengambilalihan saham PKPK senilai lebih dari Rp1 triliun yang turut mendorong penguatan ETF EIDO sebesar 1,33% dan MSCI Indonesia sebesar 1,55%.
Di tengah sentimen positif domestik, bursa global justru menunjukkan pelemahan. Indeks Dow Jones turun 0,20%, S&P 500 terkoreksi 0,51%, dan Nasdaq ambles 1,47% akibat tekanan pada saham teknologi. Kondisi ini mengindikasikan bahwa penguatan IHSG lebih didorong oleh faktor internal, seperti aksi korporasi dan aliran dana asing, bukan oleh sentimen eksternal.
Dari sisi aksi korporasi, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) berencana menambah lini bisnis baru melalui layanan Network Access Point (NAP) yang akan dijalankan anak usahanya, PT Tower Bersama. Langkah ini merupakan diversifikasi dari bisnis utama penyewaan menara telekomunikasi ke layanan wholesale IP transit, menyasar penyelenggara jasa internet (ISP) Tier 2โ3 dan korporasi. Rencana ini dikategorikan sebagai transaksi material karena kontribusi anak usaha terhadap pendapatan konsolidasian melebihi 20%, sehingga harus mendapat persetujuan pemegang saham dalam RUPS yang dijadwalkan pada 24 Agustus.
TBIG menyiapkan investasi awal Rp47,40 miliar yang seluruhnya berasal dari kas internal, tanpa mengubah struktur permodalan atau menambah utang. Studi kelayakan independen untuk periode 2026โ2041 menunjukkan proyeksi IRR 18,65%, NPV positif Rp37,83 miliar, profitability index 1,86 kali, dan estimasi payback period sekitar 7 tahun 4 bulan. Ekspansi ini akan memanfaatkan sinergi aset grup berupa jaringan serat optik lebih dari 60.000 km, menara telekomunikasi, dan pusat data.
Sementara itu, PT Pinago Utama Tbk (PNGO) memasuki periode penawaran tender wajib (MTO) oleh pengendali barunya, AEP Nusantara Holdings Limited. Penawaran dilakukan atas maksimal 13,59 juta saham (1,74% dari modal ditempatkan) dengan harga Rp3.584 per saham, total nilai maksimal Rp48,69 miliar. Periode penawaran berlangsung 16 Juli hingga 14 Agustus 2026, setelah AEP Nusantara mengakuisisi 98,26% saham PNGO senilai Rp2,75 triliun pada 4 Mei lalu. Perseroan menegaskan MTO ini murni pemenuhan regulasi dan tidak diikuti rencana delisting; jika seluruh saham publik terserap, pengendali baru wajib memenuhi ketentuan porsi publik.
PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM) juga mengumumkan rencana penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) melalui penerbitan maksimal 800 juta saham baru (9,22% dari modal saat ini). Harga pelaksanaan mengacu pada ketentuan BEI, minimal 90% dari rata-rata harga penutupan 25 hari bursa. Seluruh dana akan digunakan untuk belanja modal. Setelah aksi ini, porsi publik diperkirakan turun dari 13,29% menjadi 12,17%, berpotensi dilusi sekitar 8,44% bagi pemegang saham publik.
Bagi investor ritel Indonesia, rangkaian aksi korporasi ini membuka peluang sekaligus risiko. Diversifikasi TBIG ke NAP menawarkan prospek pertumbuhan jangka panjang, namun perlu dicermati eksekusi dan persetujuan RUPS. MTO PNGO memberikan kesempatan keluar bagi pemegang saham publik di harga tertentu, sementara rights issue HATM berpotensi mendilusi kepemilikan. Dengan IHSG yang masih dalam tren rebound, investor disarankan mencermati fundamental emiten dan jadwal aksi korporasi untuk mengambil keputusan yang tepat.



