Singapura Turunkan Usia Minimal Hunian Senior, tapi Permintaan Diprediksi Tak Melonjak
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Singapura menurunkan batas usia pembeli Community Care Apartment dari 65 menjadi 55 tahun dan memangkas biaya layanan hingga 75% mulai 2027.
- Para analis menilai hambatan psikologis dan preferensi untuk tetap tinggal di lingkungan lama lebih dominan daripada soal harga atau syarat usia.
- Langkah ini lebih bertujuan mendorong perencanaan pensiun dini, bukan sekadar meningkatkan angka permintaan jangka pendek.

Pemerintah Singapura memangkas batas usia pembeli Community Care Apartment (CCA) dari 65 menjadi 55 tahun dan menurunkan biaya layanan dasar hingga 75 persen, namun para pengamat properti dan gerontologi menilai langkah itu belum cukup untuk mendorong lonjakan permintaan secara signifikan.
Kebijakan yang diumumkan pada Senin (13/7) itu berlaku mulai penjualan Build-to-Order (BTO) Oktober 2026. Penurunan usia ini memperluas jumlah calon pembeli, tetapi analis seperti Nicholas Mak dari Mogul.sg menyebut masih ada hambatan mental yang membuat para lansia enggan pindah. “Permintaan akan meningkat sangat marginal, tidak akan membuka keran,” ujarnya.
Data HDB menunjukkan tingkat aplikasi CCA terus menurun. Proyek perdana Harmony Village@Bukit Batok pada 2021 mencatat rasio 4,2 peminat per unit, sementara Fernvale Plains di Sengkang hanya 0,7. Associate Professor Wee Shiou Liang dari Singapore University of Social Sciences menilai penurunan itu bukan karena cacat desain, melainkan preferensi kuat untuk menua di tempat tinggal lama. “Familiaritas sangat penting di usia senja—tetangga lama, rutinitas, kedai kopi favorit. Pindah berarti kehilangan semua itu,” katanya.
Meski usia diturunkan, para ahli sepakat bahwa warga berusia 55 tahun umumnya masih bekerja dan sehat, sehingga belum merasa perlu bantuan perawatan. Menurut Wee, perubahan ini lebih bersifat jangka panjang: mendorong perencanaan pensiun lebih awal. “Ini tentang pola pikir, bukan angka. Memberi waktu sepuluh tahun ekstra untuk mempertimbangkan opsi,” jelasnya.
Sebagai perbandingan, dua kamar Flexi flat—yang juga diperuntukkan bagi warga 55 tahun ke atas—masih lebih diminati dengan rasio aplikasi 2,6 pada penjualan Juni lalu. Lee Sze Teck dari Huttons mengatakan CCA butuh waktu untuk diterima karena produk ini relatif baru. Biaya layanan bulanan yang harus dibayar penghuni juga menjadi pertimbangan, meskipun akan dikurangi besar-besaran mulai 2027.
Bagi Indonesia, kebijakan ini relevan mengingat tren penuaan penduduk serupa. Data BPS 2024 mencatat 12,5% penduduk Indonesia berusia 60 tahun ke atas, dan angka itu terus meningkat. Namun, opsi hunian khusus lansia yang terintegrasi dengan layanan kesehatan masih sangat terbatas. Program seperti rumah susun lansia di Jakarta atau konsep “Kampung Lansia” di beberapa daerah belum menjangkau kebutuhan perawatan jangka panjang. Langkah Singapura bisa menjadi referensi bagi pemerintah dan pengembang properti di Indonesia untuk mulai merancang skema serupa, terutama dalam hal subsidi dan kemudahan akses.
Dr Tan Woan Shin dari Geriatric Education and Research Institute menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang mendukung penuaan di tempat. Karena mayoritas warga Singapura memiliki rumah sendiri, usia lanjut di rumah adalah pilihan utama. “Lingkungan yang ada harus mendukung agar lansia bisa berfungsi baik, mendapat akses perawatan tepat waktu, dan melakukan hal yang berarti bagi mereka,” ujarnya.
Ke depan, para analis memperkirakan bahwa penerimaan CCA akan meningkat seiring waktu, terutama jika biaya layanan terus turun dan kesadaran akan pentingnya perencanaan pensiun dini tumbuh. Pertanyaan yang masih menggantung: akankah pergeseran pola pikir ini cukup cepat untuk mengimbangi laju penuaan penduduk di Asia Tenggara?



