Abrasi Putuskan Akses Jalan, Pelajar Muara Gembong Tempuh Sungai dengan Perahu
Baca dalam 60 detik
- Akses darat menuju sekolah di Muara Gembong, Bekasi, terputus akibat abrasi Sungai Citarum, memaksa siswa menggunakan perahu untuk berangkat.
- Fenomena ini mencerminkan dampak nyata kerusakan lingkungan pesisir terhadap mobilitas dan pendidikan anak-anak di wilayah rawan abrasi.
- Tanpa intervensi penanganan abrasi yang serius, risiko putusnya akses pendidikan dan ekonomi di daerah pesisir akan terus meningkat.

Puluhan siswa sekolah dasar di Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, terpaksa menyeberangi Sungai Citarum dengan perahu setiap hari setelah akses jalan darat mereka putus akibat abrasi yang semakin parah.
Fenomena ini terekam dalam jepretan kamera pada Kamis (16/7) lalu, memperlihatkan anak-anak berseragam merah putih duduk berdesakan di atas perahu kayu saat melintasi sungai yang kerap keruh. Abrasi di kawasan pesisir utara Bekasi itu telah menggerus badan jalan yang selama ini menjadi satu-satunya penghubung antara permukiman warga dan sekolah.
Kondisi ini bukanlah kejadian baru. Muara Gembong dikenal sebagai salah satu wilayah paling rawan abrasi di pesisir utara Jawa Barat. Dalam beberapa tahun terakhir, garis pantai terus mundur, merenggut lahan pemukiman, tambak, dan infrastruktur publik. Kini, giliran akses pendidikan yang menjadi korban.
Bagi para siswa, perjalanan yang semestinya ditempuh dalam hitungan menit kini berubah menjadi rutinitas penuh risiko. Mereka harus berangkat lebih pagi, membawa tas dan bekal, serta bergantung pada nelayan atau orang tua yang mengayuh perahu. Cuaca buruk dan arus sungai yang deras kerap menjadi momok tersendiri.
Kepala Desa setempat, dalam pernyataan yang dikutip media, mengakui bahwa abrasi telah menjadi masalah struktural yang tak kunjung tertangani. "Kami sudah berkali-kali mengusulkan pembangunan tanggul atau turap, tapi realisasinya lambat. Sementara itu, anak-anak kami setiap hari mempertaruhkan keselamatan demi pendidikan," ujarnya.
Dari sisi kebijakan, kasus Muara Gembong menjadi pengingat bahwa abrasi pesisir bukan sekadar isu lingkungan, melainkan juga darurat sosial dan pendidikan. Pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan dan Dinas PUPR sebenarnya telah menyusun rencana pembangunan jalan alternatif, namun hingga kini belum ada tanda-tanda pelaksanaan.
Para ahli lingkungan dari Universitas Indonesia menilai bahwa abrasi di pesisir utara Jawa diperparah oleh konversi hutan mangrove menjadi tambak dan pemukiman. "Tanpa restorasi ekosistem pesisir yang masif, abrasi akan terus meluas dan memutus lebih banyak akses masyarakat," kata seorang peneliti yang enggan disebut namanya.
Ke depan, pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit: membangun infrastruktur penahan abrasi secara permanen atau merelakan wilayah pesisir terus tergerus. Sementara itu, para pelajar Muara Gembong tetap harus berlayar setiap pagiโsebuah ironi di tengah klaim pembangunan yang merata.



