Iran Siapkan Houthi Tutup Selat Bab el-Mandeb jika AS Serang Infrastruktur Listrik
Baca dalam 60 detik
- Teheran memerintahkan Houthi untuk memblokade jalur minyak Laut Merah sebagai bantalan jika Amerika menyerang instalasi listrik Iran.
- Penutupan Selat Bab el-Mandeb akan menghentikan dua jalur ekspor minyak utama Timur Tengah secara bersamaan, memperparah krisis energi global.
- Keputusan operasional ada di tangan perwakilan Korps Garda Revolusi Islam yang sudah berada di Yaman, menandai eskalasi konflik regional.

Iran telah meminta kelompok Houthi Yaman untuk bersiap menutup jalur minyak di Laut Merah jika Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap infrastruktur kelistrikan Iran, sebuah langkah yang berpotensi melumpuhkan pasokan energi global secara dramatis. Permintaan itu disampaikan melalui saluran rahasia dan belum pernah dilaporkan sebelumnya, menurut tiga sumber yang berbicara kepada Reuters pada Kamis (16/7).
Dua sumber senior Iran dan satu sumber regional yang mengetahui masalah tersebut mengatakan ide itu telah dibahas di dalam pimpinan Republik Islam dan pesannya telah diteruskan kepada sekutu Houthi mereka. Sumber tersebut berbicara dengan syarat anonim karena sensitivitas isu ini. Mereka tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang bagaimana pesan itu disampaikan atau apakah itu terjadi setelah ancaman Presiden AS Donald Trump pada Selasa untuk menyerang infrastruktur listrik Iran.
Seorang sumber dekat Houthi mengatakan kelompok itu telah menyelesaikan persiapan untuk menyerang pelayaran dengan menempatkan rudal dan drone di dekat Selat Bab el-Mandeb, pintu gerbang menuju Laut Merah, di dataran tinggi Yaman yang menghadap Hodeidah dan Teluk Aden. Mereka kini hanya menunggu perintah untuk memulai. Penutupan selat itu tidak akan sulit, kata sumber itu, seraya menambahkan, "Siapa pun dengan senapan bisa mengganggu pelayaran. Anda tidak perlu rudal canggih untuk mengganggu pelayaran."
Jika ancaman itu terwujud, dua jalur ekspor minyak utama Timur Tengah akan terganggu secara bersamaan. Selat Hormuz sudah ditutup oleh Iran sejak 28 Februari setelah serangan Israel dan AS terhadap Iran. Sebagai respons, sejumlah besar minyak Teluk dialihkan ke Laut Merah melalui pipa Saudi, dan jalur air itu kini membawa sekitar 7 persen pasokan energi global. Saudi Arabia sendiri telah mengalihkan 70 persen ekspor energinya melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Serangan langsung di sana akan menjadi masalah besar bagi pasar minyak.
Keputusan kapan menutup Selat Bab el-Mandeb akan dikendalikan oleh perwakilan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang sudah berada di Yaman, menurut sumber dekat Houthi. Ini menunjukkan koordinasi erat antara Teheran dan kelompok Yaman itu. Dua sumber regional dekat Riyadh mengatakan kerajaan Saudi menganggap serius ancaman dari Iran dan Houthi, dan menyadari bahwa kelompok Yaman kini berkoordinasi erat dengan Iran atas Laut Merah.
Ketegangan meningkat setelah gencatan senjata rapuh Juni antara Teheran dan Washington runtuh, menghidupkan kembali kekhawatiran perang skala penuh. Dalam perkembangan terpisah, Houthi menembakkan rudal ke Arab Saudi setelah menuduh kerajaan mengebom bandara di bawah kendali mereka pada Senin, melanggar gencatan senjata empat tahun dalam konflik antara kerajaan dan kelompok itu. Torbjorn Solvedt, analis utama Timur Tengah dari perusahaan intelijen risiko Verisk Maplecroft, mengatakan peningkatan ketegangan antara Houthi dan Saudi terjadi pada waktu yang buruk. "Jika pertempuran meningkat dan meluas ke infrastruktur ekspor Laut Merah dan pelayaran, itu akan mengancam satu-satunya jalur alternatif utama untuk ekspor minyak dari kawasan," katanya.
Iran memandang Houthi sebagai bagian dari "Poros Perlawanan" regional, aliansi yang juga mencakup Hizbullah Lebanon dan kelompok bersenjata Syiah Irak yang telah bergabung dalam konflik regional antara Teheran dan Washington. Namun, Houthi sejauh ini belum secara resmi memasuki pertempuran. Amerika Serikat menuduh Iran menyediakan senjata, pendanaan, dan pelatihan kepada Houthi, termasuk dukungan yang disalurkan melalui Hizbullah. Teheran membantah tuduhan itu.
Bagi Indonesia, eskalasi di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb berpotensi mengerek harga minyak global dan mengganggu rantai pasok komoditas, mengingat Indonesia masih bergantung pada impor minyak dan jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu rute utama perdagangan internasional. Jika krisis berlanjut, dampaknya bisa dirasakan langsung oleh konsumen di dalam negeri melalui kenaikan harga bahan bakar dan barang impor.
Pertanyaan yang kini mengemuka: sejauh mana Iran bersedia mendorong Houthi untuk benar-benar menutup selat tersebut, dan apakah Amerika Serikat akan mengambil tindakan balasan yang justru memicu perang terbuka di dua front energi sekaligus?



