Milan Nyaris Rekrut Pelatih Spanyol De la Fuente Sebelum Sukses di Euro 2024
Baca dalam 60 detik
- AC Milan sempat mempertimbangkan Luis de la Fuente sebagai suksesor Stefano Pioli pada 2024, namun akhirnya memilih Paulo Fonseca.
- De la Fuente kemudian membawa Spanyol juara Euro 2024 dan kini melaju ke final Piala Dunia 2026 melawan Argentina.
- Keputusan Milan melewatkan De la Fuente menjadi ironis mengingat performa klub yang menurun dan prestasi sang pelatih yang meroket.

AC Milan nyaris menunjuk Luis de la Fuente sebagai pelatih kepala pada musim panas 2024, sebelum pelatih asal Spanyol itu membawa timnasnya meraih gelar juara Eropa dan melaju ke final Piala Dunia. Keputusan yang tidak diambil oleh manajemen Rossoneri itu kini menjadi sorotan, terutama setelah De la Fuente sukses membawa Spanyol tampil dominan di turnamen internasional.
Menurut laporan Il Giornale yang dikutip CalcioMercato, ketika masa kepelatihan Stefano Pioli berakhir setelah musim 2023/24, petinggi Milan menyusun daftar kandidat pengganti. Julen Lopetegui menjadi pilihan utama awal, namun negosiasi buntu. Paulo Fonseca akhirnya ditunjuk, sementara nama De la Fuente juga masuk dalam pertimbangan serius. Namun, ide itu tidak pernah berkembang lebih jauh karena De la Fuente saat itu tengah mempersiapkan tim Spanyol untuk Euro 2024.
Dua tahun berselang, keputusan Milan itu terasa bagaikan pintu geser yang menentukan nasib kedua pihak. De la Fuente telah membawa Spanyol ke final Piala Dunia yang akan berlangsung Minggu ini melawan Argentina, menambah koleksi trofi setelah sukses di Euro 2024 dan Nations League. Kariernya yang dibangun di dalam sistem pembinaan muda Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) terbukti ampuh: ia memaksimalkan potensi kolektif tim tanpa bergantung pada bintang individu.
Di sisi lain, Milan justru mengalami masa sulit. Setelah memecat Fonseca, klub menunjuk Ruben Amorim sebagai pelatih baru untuk memulai lagi dari awal. Namun, hasil di lapangan belum sesuai harapan, dan Milan gagal lolos ke Liga Champions musim ini. Ironisnya, De la Fuente yang sempat diabaikan kini menjadi salah satu pelatih paling sukses di dunia.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah ini menjadi pengingat betapa pentingnya keputusan di kursi pelatih. Klub-klub besar Eropa seringkali harus memilih antara pelatih mapan atau kandidat yang sedang naik daun. De la Fuente, yang tidak pernah melatih di level klub elit, justru membuktikan bahwa pengalaman membina tim nasional bisa menghasilkan prestasi gemilang. Pertanyaan yang mengemuka: akankah Milan menyesali keputusan mereka jika De la Fuente akhirnya mengangkat trofi Piala Dunia?
"De la Fuente adalah pelatih yang mampu membangun tim tanpa superstar. Kesetiaannya pada pemain seperti Unai Simรณn, Pedro Porro, dan Mikel Oyarzabal menunjukkan bahwa ia lebih mengutamakan kolektivitas," ujar analis sepak bola Italia, Matteo Bonetti.
Milan kini harus menghadapi kenyataan bahwa pelatih yang mereka lewatkan justru menjadi bintang di panggung global. Sementara itu, De la Fuente terus membuktikan bahwa jalur karier yang tidak biasaโdari pembinaan muda langsung ke tim seniorโbisa membuahkan hasil maksimal. Final Piala Dunia nanti akan menjadi panggung terbesarnya, sekaligus pengingat bagi Milan tentang apa yang mungkin terjadi.



