Mick Jagger Siap Bawa The Rolling Stones Kembali ke Panggung Glastonbury 2027
Baca dalam 60 detik
- Vokalis The Rolling Stones, Mick Jagger, mengonfirmasi keinginannya untuk kembali menjadi headline di Glastonbury pada 2027, meski mengkritik tata panggung festival tersebut.
- Band legendaris ini hanya sekali tampil di Glastonbury sepanjang karier mereka, yaitu pada 2013, yang menjadi salah satu konser paling ikonik dalam sejarah festival.
- Jagger juga mengisyaratkan rencana tur dan residensi pada 2025, dengan kemungkinan mengadopsi format multi-show seperti Harry Styles.

Sir Mick Jagger, vokalis The Rolling Stones yang kini berusia 82 tahun, menyatakan kesiapannya untuk kembali memuncaki panggung Glastonbury saat festival itu bergulir lagi pada 2027. Pernyataan ini disampaikan di tengah promosi album terbaru band, Foreign Tongues, dan menjadi angin segar bagi penggemar yang menantikan aksi legendaris tersebut di Worthy Farm.
Dalam wawancara dengan NME, Jagger mengakui bahwa tampil di Glastonbury bukanlah perkara mudah. Ia mengeluhkan panggung Pyramid Stage yang dinilainya terputus-putus dan terlalu jauh dari penonton. “Biasanya kami punya walkway sepanjang 50 kaki, tapi di Glastonbury hanya 10 kaki,” ujarnya. Meski demikian, ia tak menampik sensasi luar biasa saat melihat lautan manusia dari atas panggung. “Apakah saya ingin melakukannya lagi? Oh, saya akan bilang ya,” tegasnya.
Keputusan untuk tidak tampil pada 2024, menurut Jagger, terkait dengan kondisi gitaris Keith Richards yang belum siap tur. “Keith tidak bisa berkomitmen, dan dia merasa kurang baik soal tur dan segalanya. Itu mengarah pada pertanyaan tentang residensi,” ungkap Jagger. Ia kemudian mengklarifikasi bahwa yang dimaksud bukanlah residensi Las Vegas, melainkan format multi-show seperti yang dilakukan Harry Styles di Amsterdam dan London. Rencana tur untuk 2025 pun sudah mulai digodok. “Kami akan mengumumkan tanggal live tahun depan, mudah-mudahan,” tambahnya.
Sejarah The Rolling Stones di Glastonbury memang singkat namun monumental. Mereka baru pertama kali menginjakkan kaki di Worthy Farm pada 2013, setelah lebih dari 50 tahun berkarier. Saat itu, kapasitas lapangan Pyramid Stage diperluas untuk menampung lebih dari 100.000 penggemar. Penampilan mereka yang energetik selama dua setengah jam menjadi salah satu momen paling dinanti dalam sejarah festival Inggris. Jagger bahkan menulis lagu khusus berjudul Glastonbury Girl—gubahan ulang dari Factory Girl (1968)—yang secara jenaka menyindir budaya festival, mulai dari tisu basah hingga tenda mewah.
Yang menarik, alih-alih menghadirkan bintang pop kontemporer, The Rolling Stones justru mengundang mantan gitaris mereka, Mick Taylor, yang hengkang pada 1974, untuk memainkan solo blues rumit di Midnight Rambler dan Can't You Hear Me Knocking. Puncak pertunjukan adalah saat Sympathy For The Devil, ketika burung phoenix raksasa dari besi bekas di atas panggung mengembangkan sayap dan menyemburkan api ke arah penonton.
Bagi penggemar musik di Indonesia, kabar ini membawa harapan bahwa tur The Rolling Stones ke Asia, termasuk kemungkinan singgah di Jakarta, bisa terwujud dalam waktu dekat. Meski Jagger belum menyebutkan jadwal spesifik, pernyataannya tentang rencana tur 2025 membuka peluang bagi promotor Tanah Air untuk mulai menjajaki kerja sama. Pertanyaannya, akankah para penggemar setia di Indonesia akhirnya bisa menyaksikan langsung aksi panggung sang legenda sebelum mereka benar-benar pensiun?



