Messi dan Yamal: Pertemuan Pertama yang Menakjubkan 18 Tahun Lalu, Kini Bersua di Final Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Lionel Messi dan Lamine Yamal pertama kali bertemu pada 2007 saat sesi foto amal, ketika Yamal masih bayi berusia lima bulan.
- Keduanya akan berhadapan untuk pertama kalinya di final Piala Dunia, Minggu ini, sebagai simbol regenerasi sepak bola dunia.
- Kisah ini menjadi pengingat bahwa takdir dan kerja keras dapat mempertemukan dua generasi berbeda di panggung terbesar.

Lionel Messi dan Lamine Yamal akan saling berhadapan untuk pertama kalinya di final Piala Dunia, Minggu ini, namun benih pertemuan mereka telah ditanam hampir dua dekade lalu dalam sebuah sesi foto yang tak terduga. Pada 2007, ketika Messi masih menjadi pemain muda Barcelona dan Yamal baru berusia lima bulan, keduanya dipertemukan secara kebetulan dalam sebuah pemotretan amal yang kini dikenang sebagai awal dari dua legenda.
Foto-foto yang diabadikan oleh fotografer Joan Monfort itu memperlihatkan Messi yang tersenyum memangku dan memandikan bayi Yamal di ruang ganti Camp Nou. Monfort, dalam wawancaranya dengan BBC, menyebut momen itu sebagai "keajaiban takdir" yang tak terduga. "Jika ini ditulis dalam film, rasanya mustahil," ujarnya. Keluarga Yamal memenangkan undian dari koran Sport dan Unicef untuk berfoto dengan pemain Barcelona, dan secara kebetulan dipasangkan dengan Messi.
Kisah ini kembali viral setelah ayah Yamal mengunggah foto tersebut pada 2024, saat Yamal bersinar di Euro 2024. Kini, di usia 19 tahun, Yamal telah mengoleksi 56 gol, tiga gelar La Liga, dan satu trofi Euro. Sementara Messi, yang kini berusia 39 tahun, tengah berusaha meraih gelar Piala Dunia keduanya. Pertemuan mereka di final menjadi puncak narasi yang dimulai 18 tahun lalu.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah ini menyiratkan bahwa regenerasi talenta adalah proses panjang yang dimulai dari dukungan keluarga dan kesempatan. Yamal, yang tumbuh di lingkungan kelas pekerja Rocafonda, kerap merayakan gol dengan gestur 304โkode pos daerahnya. "Apa yang dilakukan orang tuaku, aku tak bisa membalasnya," kata Yamal kepada El Pais. Ini mengingatkan bahwa bakat saja tak cukup tanpa pengorbanan orang tua, sebuah nilai universal yang relevan di Indonesia.
Monfort, yang juga penggemar Barcelona, mengaku hatinya terbelah. "Bagi Messi, memenangkan Piala Dunia kedua adalah akhir yang sempurna. Tapi bagi Lamine, masih banyak waktu. Namun jika Spanyol menang sekarang, itu akan lebih berharga," ujarnya. Pertandingan ini bukan sekadar final, melainkan penutup siklus yang dimulai dengan sebuah foto sederhana.
"Ini adalah keajaiban takdirโsesuatu yang jauh lebih besar dari yang pernah kita bayangkan." โ Joan Monfort, fotografer
Ke depan, apa pun hasilnya, pertemuan Messi dan Yamal telah menulis ulang definisi warisan dalam sepak bola. Mampukah Yamal mengikuti jejak Messi, atau justru menciptakan jalannya sendiri? Final Minggu ini akan menjadi babak pertama dari jawaban atas pertanyaan itu.



