BTN dan SMF Siapkan Sekuritisasi Rp400 Miliar, Obligasi Tier-2 Jadi Andalan
Baca dalam 60 detik
- BTN tengah menjajaki dua skema kerja sama dengan SMF: sekuritisasi aset senilai Rp300-400 miliar dan penerbitan obligasi tier-2 untuk perkuat permodalan.
- Laba bersih BTN melesat 40,8% menjadi Rp2,40 triliun di semester I-2026, ditopang pertumbuhan kredit non-perumahan yang melonjak 46,1%.
- Strategi diversifikasi beyond mortgage dan penguatan dana murah berhasil menekan cost of fund ke level 3,01%, memperkuat daya saing perseroan.

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) bergerak cepat memperkuat struktur permodalan dan likuiditas di tengah ekspansi kredit yang agresif. Perseroan mengungkapkan sedang menjajaki dua aksi korporasi strategis bersama PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) (SMF), termasuk sekuritisasi aset hingga Rp400 miliar dan penerbitan obligasi subordinasi tier-2.
Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu, memaparkan bahwa skema pertama adalah sekuritisasi portofolio kredit perumahan senilai Rp300 miliar hingga Rp400 miliar. Skema kedua berupa pembelian obligasi terkait perumahan yang diterbitkan BTN oleh SMF, dengan catatan khusus: "Saya mintanya bonds-nya tier-2 capital," ujarnya dalam paparan kinerja di Jakarta, Kamis (16/7/2026). Jika kedua rencana ini terealisasi, BTN menargetkan eksekusi di paruh kedua tahun ini.
Kinerja keuangan BTN pada semester pertama 2026 menunjukkan perbaikan signifikan. Laba bersih konsolidasi melonjak 40,8% year-on-year menjadi Rp2,40 triliun, didorong oleh pertumbuhan kredit yang solid dan efisiensi biaya dana. Rasio kredit bermasalah (NPL) berhasil ditekan dari 3,3% menjadi 2,99%, menandakan kualitas aset yang semakin prima. Penyaluran kredit dan pembiayaan konsolidasi mencapai Rp418,11 triliun, dengan kredit perumahan tumbuh 4,8% dan kredit non-perumahan melesat 46,1%.
Kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi masih menjadi tulang punggung, meningkat 8,1% yoy menjadi Rp196,96 triliun. Sementara itu, Kredit Program Perumahan (KPP) yang diluncurkan akhir Oktober 2025 telah tersalur Rp4,1 triliun per Juni 2026. Nixon menjelaskan bahwa pertumbuhan kredit non-perumahan didorong oleh penetrasi ke sektor pendidikan, kesehatan, pemerintahan, hingga ritel, serta kerja sama dengan perusahaan multifinance untuk pembiayaan kendaraan bermotor. Langkah ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi beyond mortgage untuk meningkatkan cross selling kepada nasabah eksisting.
Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) BTN mencapai Rp433,00 triliun, tumbuh 6,6% yoy. Perseroan fokus memperkuat dana murah melalui akuisisi dana ritel, digitalisasi transaksi, penguatan payroll, dan kerja sama dengan pemerintah daerah. Hasilnya, cost of fund berhasil dijaga di level 3,01% sepanjang semester I-2026, memberikan ruang bagi margin bunga yang kompetitif. Total aset pun naik 12,4% menjadi Rp545,16 triliun, mencerminkan kapasitas perseroan yang semakin kokoh dalam mendukung pembiayaan perumahan nasional.
Langkah BTN menggandeng SMF untuk sekuritisasi dan obligasi tier-2 dinilai strategis di tengah kebutuhan modal yang meningkat seiring ekspansi. Sekuritisasi akan membebaskan modal yang terikat di portofolio kredit, sementara obligasi tier-2 memperkuat rasio kecukupan modal (CAR) tanpa mengencerkan kepemilikan. Pertanyaannya, apakah skema ini cukup untuk menjaga momentum pertumbuhan BTN di tengah tekanan suku bunga dan persaingan ketat di sektor perbankan? Realisasi di semester II-2026 akan menjadi ujian bagi strategi diversifikasi perseroan.



