Enam Dekade Penantian: Inggris dan Kutukan Piala Dunia yang Tak Kunjung Usai
Baca dalam 60 detik
- Kekalahan dari Argentina di semifinal Piala Dunia 2026 memperpanjang puasa gelar Inggris menjadi 60 tahun sejak trofi terakhir diraih pada 1966.
- Sejak 1966, Inggris telah menggunakan 15 manajer permanen, 454 debutan, dan 161 pemain di Piala Dunia, namun hanya satu kapten yang berhasil mengangkat trofi.
- Jerman dan Argentina menjadi momok dengan masing-masing tiga kali menyingkirkan Inggris, sementara hanya delapan negara yang mengisi 30 kursi final sejak 1966.

Kekalahan dramatis Inggris dari Argentina di semifinal Piala Dunia 2026 kembali membuka luka lama: sudah 60 tahun sejak Bobby Moore mengangkat trofi Jules Rimet di Wembley, namun puasa gelar The Three Lions tak kunjung berakhir. Di Atlanta, Rabu (15/7) waktu setempat, pasukan Thomas Tuchel kehilangan keunggulan di menit akhir dan harus mengakui keunggulan Lionel Messi dkk. dengan skor 2-1.
Angka-angka di balik penantian ini menunjukkan betapa panjang dan pahitnya perjalanan Inggris. Sejak final 1966, sebanyak 454 pemain telah melakukan debut untuk timnas senior Inggris—dari John Hollins pada Mei 1967 hingga remaja Liverpool Rio Ngumoha pada Juni 2026. Dari jumlah itu, 161 pemain tampil di putaran final Piala Dunia, tetapi tak satu pun mampu mengulang prestasi generasi Alf Ramsey.
Lima belas manajer permanen telah berganti sejak Ramsey, termasuk nama-nama besar seperti Bobby Robson, Sven-Goran Eriksson, Fabio Capello, Gareth Southgate, dan kini Thomas Tuchel. Namun, hanya tujuh kapten yang memimpin Inggris di Piala Dunia: Moore, Mick Mills, Bryan Robson, Alan Shearer, David Beckham, Steven Gerrard, dan Harry Kane. Moore tetap satu-satunya yang mengangkat trofi.
Kegagalan demi kegagalan telah menjadi bagian dari folklore sepak bola Inggris. Dari keunggulan 2-0 yang buyar melawan Jerman Barat pada 1970, "Tangan Tuhan" Maradona 1986, air mata Gascoigne 1990, kartu merah Beckham 1998, tendangan bebas Ronaldinho 2002, gol Lampard yang dianulir 2010, penalti Kane yang melambung 2022, hingga comeback Argentina 2026. Adu penalti juga menjadi mimpi buruk, terutama setelah kegagalan Chris Waddle dan Stuart Pearce pada 1990.
Menariknya, dari 30 kursi final yang tersedia sejak 1966, hanya delapan negara yang pernah mengisinya. Jerman dan Argentina memimpin dengan enam penampilan, disusul Brasil, Italia, dan Prancis (masing-masing empat), Belanda (tiga), Spanyol (dua), dan Kroasia (satu). Inggris masih di luar klub eksklusif itu.
Perubahan di luar lapangan juga mencerminkan betapa lamanya penantian ini. Sejak 1966, Inggris telah berganti 14 perdana menteri, AS 11 presiden, Ratu Elizabeth II digantikan Raja Charles III, manusia mendarat di bulan, Tembok Berlin runtuh, internet ditemukan, dan ponsel pintar mengubah kehidupan. Saat Inggris juara, lagu "Out of Time" oleh Chris Farlowe menjadi nomor satu, dan film Batman (1966) memuncaki box office.
Bagi Indonesia, kisah ini relevan karena menunjukkan betapa sulitnya mempertahankan konsistensi di panggung tertinggi sepak bola. Timnas Indonesia yang tengah membangun fondasi menuju Piala Dunia 2026—meski belum lolos—dapat belajar dari perjalanan Inggris: bahwa regenerasi pemain dan manajemen ekspektasi adalah kunci, namun tak menjamin kesuksesan. Kegagalan Inggris juga mengingatkan bahwa dalam sepak bola, sejarah dan tradisi tidak selalu berbanding lurus dengan hasil.
Dengan siklus Piala Dunia baru yang akan dimulai, Inggris kembali dihadapkan pada pertanyaan yang sama: akankah generasi berikutnya mampu memutus kutukan 60 tahun? Atau justru Indonesia yang lebih dulu merasakan manisnya trofi? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal pasti: luka lama Inggris kembali menganga, dan para penggemar setia harus bersiap untuk penantian yang lebih panjang.



