Red Bull Tarik Sayap Inovatif Usai Kecelakaan Beruntun Verstappen
Baca dalam 60 detik
- Red Bull memutuskan kembali ke sayap belakang konvensional mulai GP Belgia setelah dua kecelakaan高速 yang dialami Max Verstappen.
- Masalah aerodinamis pada sayap model baru—yang dipakai bersama Ferrari—menyebabkan gangguan aliran udara saat sayap menutup di tikungan cepat.
- Keputusan ini diambil setelah uji coba di Silverstone mengonfirmasi kelemahan desain yang sempat dianggap sebagai terobosan pengurangan hambatan.

Red Bull Racing memutuskan untuk meninggalkan desain sayap belakang revolusioner yang telah mereka gunakan sepanjang musim ini, setelah dua insiden kecelakaan高速 yang dialami Max Verstappen dalam balapan berturut-turut. Keputusan ini diumumkan menjelang Grand Prix Belgia akhir pekan ini, dengan tim asal Austria itu kembali ke sayap konvensional yang membuka secara standar untuk mode garis lurus.
Kepala tim Red Bull, Laurent Mekies, mengonfirmasi kepada BBC Sport bahwa pengujian pasca-balapan di Silverstone mengungkapkan kelemahan fundamental pada desain sayap yang sebelumnya dianggap sebagai inovasi terdepan. “Kami menemukan masalah pada sayap sebelumnya dalam tes yang kami lakukan sejak balapan di Silverstone,” ujar Mekies. “Kami akan kembali ke sayap yang membuka dengan cara standar.”
Red Bull dan Ferrari menjadi pelopor desain sayap belakang baru tahun ini, di mana flap atas berputar lebih dari 180 derajat saat membuka untuk mode garis lurus. Mekanisme ini memberikan pengurangan hambatan yang lebih besar, sehingga meningkatkan kecepatan di lintasan lurus. Namun, keunggulan itu harus dibayar mahal dengan masalah stabilitas saat sayap menutup kembali pada tikungan berkecepatan tinggi.
Kecelakaan pertama terjadi saat Grand Prix Inggris, di mana Verstappen kehilangan kendali di tikungan Copse yang legendaris. Insiden kedua menimpanya pada sesi kualifikasi di Austria, tepatnya di tikungan cepat yang membutuhkan stabilitas aerodinamis tinggi. Verstappen sendiri menggambarkan situasi itu sebagai “super-dangerous” setelah keluar dari mobil.
Analis teknis meyakini akar masalah terletak pada proses penutupan sayap. Saat sayap beralih dari mode terbuka (straight-line) ke mode tertutup (cornering), aliran udara tidak sepenuhnya menempel kembali dengan cukup cepat. Akibatnya, terjadi gangguan aerodinamis yang mengurangi downforce di bagian belakang mobil secara drastis, menyebabkan oversteer mendadak yang sulit dikendalikan bahkan oleh pembalap sekelas Verstappen.
Keputusan Red Bull untuk mundur dari desain mutakhir ini menjadi pengingat bahwa inovasi di Formula 1 selalu mengandung risiko. Meskipun kecepatan lurus yang lebih tinggi bisa menjadi keuntungan kompetitif, stabilitas di tikungan tetap menjadi prioritas utama. Tim asal Milton Keynes itu kini harus bekerja cepat untuk mengadaptasi sayap konvensional agar sesuai dengan setup mobil RB20 dalam waktu singkat.
Bagi penggemar Formula 1 di Indonesia, perkembangan ini menambah dinamika persaingan di papan atas. Red Bull yang selama ini mendominasi mungkin akan kehilangan sedikit keunggulan di lintasan lurus, sementara rival seperti McLaren dan Mercedes bisa memanfaatkan situasi ini. Pertanyaannya, akankah langkah mundur ini cukup untuk mengamankan gelar juara dunia Verstappen, atau justru membuka celah bagi pesaing?



