Ledakan di MAN 3 Padang: Polisi Temukan Tiga Bom Rakitan Lain yang Belum Meledak
Baca dalam 60 detik
- Empat bom rakitan disiapkan siswa MAN 3 Padang, satu meledak dan tiga lainnya berhasil diamankan tim penjinak bom.
- Pelaku berinisial R diduga mengalami tekanan psikologis akibat perundungan, dan mempelajari perakitan bom secara otodidak dari internet.
- Polisi memastikan kasus ini murni dipicu bullying, tanpa kaitan dengan jaringan terorisme, dan fokus pada rehabilitasi pelaku.

Kepolisian Daerah Sumatera Barat mengungkap bahwa siswa berinisial R, pelaku ledakan di MAN 3 Padang, ternyata menyiapkan empat bom rakitan. Dari jumlah tersebut, baru satu yang meledak pada saat kejadian, sementara tiga lainnya berhasil dinetralisir oleh tim penjinak bom Brimobda Polda Sumbar.
Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Susmelawati Rosya menjelaskan, ketiga bom yang belum meledak itu memiliki pola dan kekuatan yang berbeda. Tim Gegana telah melakukan disposal terhadap sisa bahan peledak tersebut untuk mengamankan lingkungan sekolah. Hingga kini, penyidik telah memeriksa tujuh saksi, termasuk guru, petugas keamanan, dan pelaku, guna mengungkap kronologi serta motif di balik aksi nekat tersebut.
Fokus utama kepolisian saat ini tidak hanya pada proses hukum, tetapi juga pemulihan psikologis pelaku. Menurut Susmelawati, R mengalami tekanan mental berat akibat dugaan perundungan yang diterimanya di sekolah. "Dia juga korban karena tertekan secara psikologis akibat dugaan bullying," ujarnya. Pendampingan psikologis dan rehabilitasi menjadi prioritas untuk memulihkan kondisi mental remaja tersebut.
Polisi menegaskan bahwa kasus ini tidak ada kaitannya dengan jaringan terorisme. Motif sementara yang terungkap murni karena rasa sakit akibat perundungan dari teman-teman sekelas. "Ini murni karena korban bullying," tegas Susmelawati. Pernyataan ini sekaligus meredam spekulasi publik yang sempat mengaitkan aksi tersebut dengan aksi teror.
Dari hasil pemeriksaan, diketahui bahwa R mempelajari cara merakit bom secara otodidak melalui internet, termasuk dari platform media sosial seperti Instagram dan YouTube. Bahan-bahan yang digunakan juga diperoleh dari sumber daring. Hal ini menunjukkan betapa rentannya remaja terpapar konten berbahaya di dunia maya tanpa pengawasan yang memadai.
Kasus ini menjadi alarm bagi dunia pendidikan dan orang tua untuk lebih serius menangani fenomena perundungan di sekolah. Tekanan psikologis yang berkepanjangan dapat mendorong korban melakukan tindakan di luar nalar. Pertanyaan yang kini mengemuka: bagaimana sistem pencegahan bullying di sekolah-sekolah Indonesia, dan apakah ada mekanisme deteksi dini untuk mencegah kejadian serupa terulang?



