Asing Net Buy Rp1 Triliun Terselubung: Transaksi Negosiasi PKPK Dongkrak Angka
Baca dalam 60 detik
- Investor asing mencatatkan pembelian bersih Rp1,01 triliun di sesi I, namun Rp1,44 triliun di antaranya berasal dari transaksi negosiasi saham PKPK yang merupakan restrukturisasi internal grup.
- IHSG naik 0,37% ke 6.064, didorong akumulasi saham perbankan dan komoditas, namun aksi jual bersih terjadi pada TPIA, RANS, dan ASII.
- Transaksi PKPK tidak mengubah pengendali dan struktur modal, sehingga investor perlu mencermati komposisi net buy asing yang tidak sepenuhnya organik.

Investor asing membukukan pembelian bersih (net foreign buy) senilai Rp1,01 triliun pada perdagangan sesi pertama Kamis (16/7/2026), mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mendekati level psikologis 6.100. Namun, angka jumbo itu tidak sepenuhnya mencerminkan minat beli di pasar reguler.
IHSG ditutup di level 6.064,46 pada akhir sesi I, naik 22,49 poin atau 0,37%. Nilai transaksi mencapai Rp7,51 triliun dengan volume 15,55 miliar saham dalam 1,42 juta kali transaksi. Meski terlihat deras, aliran dana asing tersebut ditopang oleh transaksi besar di pasar negosiasi yang tidak terkait dengan aktivitas perdagangan harian.
Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, terdapat transaksi jumbo di pasar negosiasi senilai sekitar Rp1,44 triliun pada saham PT Paragon Karya Perkasa Tbk. (PKPK). Transaksi ini merupakan pengalihan seluruh kepemilikan PT Deli Putra Bangsa sebanyak 900 juta saham atau 75% modal ditempatkan dan disetor penuh dengan harga Rp1.600 per saham. Saham tersebut dialihkan kepada dua entitas dalam kelompok usaha yang sama: Resources Global Development Limited (612 juta saham atau 51%) dan PT Deli Pratama Nusantara (288 juta saham atau 24%).
Meskipun nilainya besar, transaksi PKPK bukan merupakan perubahan pengendali. Perseroan menegaskan tidak ada perubahan struktur permodalan, jumlah saham beredar, pengendali, maupun ultimate beneficial owner. Laporan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengonfirmasi bahwa PT Deli Putra Bangsa melepas seluruh 900 juta sahamnya, sementara Resources Global Development Limited masuk sebagai pemegang saham langsung dengan 51%.
Di luar transaksi negosiasi tersebut, investor asing tetap aktif mengakumulasi saham berkapitalisasi besar di pasar reguler. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menjadi primadona dengan net buy Rp90,20 miliar, disusul PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) Rp40,97 miliar, PT Timah Tbk. (TINS) Rp33,20 miliar, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) Rp25,99 miliar, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) Rp25,40 miliar, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) Rp20,03 miliar, dan PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) Rp14,47 miliar.
Sementara itu, aksi jual bersih asing terbesar terjadi pada PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) dengan net sell Rp60,83 miliar. Disusul PT Rans Entertainment Indonesia Tbk. (RANS) Rp43,36 miliar, PT Astra International Tbk. (ASII) Rp30,21 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) Rp24,63 miliar, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) Rp17,25 miliar, dan PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) Rp13,79 miliar.
Fenomena ini mengingatkan investor untuk tidak serta-merta menafsirkan net foreign buy sebagai sinyal bullish murni. Transaksi negosiasi yang mendominasi angka hari ini menunjukkan bahwa sebagian besar aliran dana asing bersifat teknis dan tidak merefleksikan sentimen pasar secara umum. Kedepan, pasar akan mencermati apakah IHSG mampu menembus level 6.100 secara organik tanpa bergantung pada transaksi khusus, atau justru mengalami koreksi jika aksi beli asing di saham-saham perbankan mulai mereda.



