IHSG Tembus 6.100 Lagi: Sektor Keuangan dan Astra Jadi Motor Penguat
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan berhasil ditutup naik 1,1% ke level 6.108, didorong oleh saham perbankan dan Astra International.
- Saham DCI Indonesia yang sempat anjlok 7,4% di awal sesi berhasil memangkas pelemahan, mengurangi tekanan terhadap indeks.
- Investor asing masih mencatatkan aksi beli bersih Rp1 triliun, namun tetap melepas sejumlah saham unggulan seperti Chandra Asri dan RANS.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menembus kembali level psikologis 6.100 pada perdagangan Kamis (16/7/2026), ditutup menguat 1,1% meski sempat tertekan oleh aksi jual saham PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) di awal sesi. Reli saham-saham perbankan dan Astra International menjadi penopang utama indeks.
IHSG mengakhiri sesi di posisi 6.108,21, naik 66,24 poin atau 1,10%. Sebanyak 385 saham berhasil menguat, sementara 254 saham melemah, dan 326 saham stagnan. Total nilai transaksi tercatat Rp13,22 triliun dengan volume 26,23 miliar saham dalam 2,27 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) ikut terdongkrak menjadi Rp10.659 triliun.
Seluruh sektor saham ditutup di zona hijau. Sektor bahan baku memimpin penguatan dengan kenaikan 1,67%, disusul keuangan 1,22%, utilitas 1,03%, konsumer primer 0,87%, dan energi 0,85%. Sektor keuangan menjadi salah satu motor utama berkat reli saham-saham bank berkapitalisasi besar.
Dari sisi kontributor, saham PT Astra International Tbk. (ASII) menjadi penyumbang kenaikan terbesar dengan kontribusi sekitar 10,19 poin terhadap IHSG. Disusul PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) sebesar 8,99 poin, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) 8,83 poin, PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) 6,75 poin, serta PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) 4,38 poin. Kinerja saham-saham jumbo ini mampu mengimbangi tekanan yang sempat muncul dari DCII.
Di awal perdagangan, saham PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) menjadi pemberat utama indeks. Saham milik Toto Sugiri itu sempat anjlok ke Rp183.900, turun sekitar 7,4% dari penutupan sebelumnya, dan memangkas sekitar 15 poin IHSG. Akibatnya, indeks sempat masuk ke zona merah pada 30 menit pertama. Namun, tekanan tersebut berangsur mereda menjelang penutupan. Saham DCII berhasil memangkas pelemahannya menjadi hanya 0,44%, sehingga beban terhadap IHSG menyusut drastis menjadi sekitar 0,9 poin.
Sementara itu, investor asing masih menunjukkan sikap hati-hati. Hingga sesi I, investor asing mencatatkan net sell di pasar reguler. Namun secara keseluruhan, asing membukukan net buy sekitar Rp1 triliun setelah adanya transaksi jumbo di pasar negosiasi saham PT Perdana Karya Perkasa Tbk. (PKPK) senilai sekitar Rp1,44 triliun. Total transaksi investor asing pada sesi pertama mencapai Rp4,19 triliun, terdiri dari foreign buy Rp2,60 triliun dan foreign sell Rp1,59 triliun.
Meski demikian, aksi jual masih terlihat pada sejumlah saham unggulan. PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) menjadi saham yang paling banyak dilepas asing dengan nilai Rp60,83 miliar, diikuti PT Rans Entertainment Indonesia Tbk. (RANS) Rp43,36 miliar, PT Astra International Tbk. (ASII) Rp30,21 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) Rp24,63 miliar, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) Rp17,25 miliar, serta PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) Rp13,79 miliar.
Dengan meredanya tekanan dari DCII dan menguatnya saham-saham berkapitalisasi besar, IHSG berhasil mempertahankan reli hingga akhir perdagangan dan kembali ditutup di atas level psikologis 6.100. Ke depan, pergerakan indeks akan sangat bergantung pada konsistensi aliran dana asing serta kemampuan sektor perbankan dan komoditas untuk terus mendorong penguatan.



