Survei Pew: China Kalahkan AS dalam Citra Global, Indonesia Masih Pilih Washington
Baca dalam 60 detik
- Pew Research Center mencatat untuk pertama kalinya dalam 20 tahun China dipandang lebih positif daripada AS di 25 dari 36 negara survei.
- Erosi kepercayaan terhadap kepemimpinan AS dipicu perang Iran, tarif dagang, dan kebijakan kontroversial Trump.
- Indonesia termasuk minoritas yang masih menilai AS lebih baik, namun tren global mengindikasikan pergeseran peta persepsi.

Untuk pertama kalinya dalam dua dekade, citra global China melampaui Amerika Serikat di mata mayoritas negara—sebuah sinyal pergeseran peta geopolitik yang dipicu oleh kebijakan luar negeri Washington yang dianggap agresif dan tidak stabil.
Survei terbaru Pew Research Center yang dirilis Rabu (16/7) mengungkapkan bahwa China kini dipandang lebih positif dibanding AS di 25 dari 36 negara dan wilayah yang disurvei, termasuk Kanada, Meksiko, dan negara-negara Eropa utama. Hanya enam negara yang masih menilai AS lebih unggul, di antaranya Israel, Jepang, India, Korea Selatan, Filipina, dan Polandia.
Peneliti senior Pew, Laura Silver, mengatakan ini adalah pertama kalinya dalam sejarah survei global mereka—yang dimulai sejak 2005—China mendapat penilaian lebih baik secara signifikan. “Pandangan terhadap Beijing dan Washington sempat hampir sama di beberapa titik, tapi belum pernah China unggul sejauh ini,” ujarnya.
Menurut Silver, penurunan citra AS tidak terlepas dari sejumlah kebijakan kontroversial era Trump: tuntutan menguasai Greenland, operasi militer yang menangkap pemimpin Venezuela Nicolás Maduro, perang tarif terhadap Kanada, serta penanganan konflik Gaza yang dinilai sepihak. “Masyarakat global melihat AS tidak lagi berkontribusi pada perdamaian dan stabilitas,” katanya.
Di sisi lain, China diuntungkan oleh memudarnya ingatan akan pandemi Covid-19 dan persepsi sebagai mitra yang lebih dapat diandalkan. “China dipandang lebih mungkin berkontribusi pada perdamaian dan stabilitas global,” tambah Silver.
Gedung Putih membantah temuan tersebut. Juru bicara Olivia Wales menyebut Trump sebagai “pemimpin dunia bebas” yang telah “menghancurkan fasilitas nuklir Iran” dan “melenyapkan ratusan narkoteroris.” Sementara itu, Kedutaan Besar China di Washington menyatakan survei itu “menunjukkan pengakuan luas terhadap pencapaian tata kelola dan pembangunan China.”
Bagi Indonesia, hasil survei ini menarik. Meski secara global China unggul, Indonesia termasuk dalam minoritas yang masih menilai AS lebih positif. Namun, tren penurunan kepercayaan terhadap Washington patut dicermati, terutama di tengah rivalitas AS-China yang kian memanas di kawasan Indo-Pasifik. Jika kebijakan luar negeri AS terus dianggap tidak konsisten, bukan tidak mungkin persepsi publik Indonesia pun ikut bergeser.
Pew juga mencatat bahwa AS masih unggul dalam hal penghormatan terhadap kebebasan pribadi, meski jaraknya menyempit. “Penurunan ini lebih disebabkan oleh semakin sedikitnya orang yang percaya pemerintah AS menghormati kebebasan warganya,” tulis laporan tersebut.
Pertanyaan kuncinya: akankah pergeseran persepsi ini berdampak pada aliansi strategis dan kerja sama ekonomi di Asia Tenggara? Atau justru Indonesia akan tetap bertahan sebagai sekutu tradisional AS di tengah arus perubahan global?



