Iran Izinkan Kapal Tanker Jepang Melintas, Kenang Jasa 72 Tahun Lalu
Baca dalam 60 detik
- Duta Besar Iran di Jepang menyatakan izin lintas kapal tanker Jepang di Selat Hormuz didasari hubungan historis kedua negara, merujuk insiden Nissho Maru 1953.
- Insiden Nissho Maru menjadi simbol persahabatan saat perusahaan Jepang Idemitsu Kosan diam-diam membeli minyak Iran di tengah sanksi Inggris.
- Langkah ini tidak memiliki motif politik, melainkan bentuk balas budi atas solidaritas masa lalu, menurut pernyataan resmi Iran.

Iran memberikan izin kepada sebuah kapal tanker minyak asal Jepang untuk melintasi Selat Hormuz, sebuah keputusan yang oleh Duta Besar Iran untuk Jepang dikaitkan dengan kenangan akan insiden Nissho Maru pada 1953. Dalam pernyataannya, sang duta besar menegaskan bahwa langkah tersebut murni didasari oleh ikatan persahabatan lama antara kedua negara, bukan karena pertimbangan politik atau ekonomi jangka pendek.
Insiden Nissho Maru merujuk pada misi rahasia perusahaan minyak Jepang Idemitsu Kosan yang mengirim kapal tankernya untuk membeli minyak mentah dari Iran di tengah sanksi dan pengawasan ketat Angkatan Laut Inggris. Tindakan itu dianggap sebagai bentuk dukungan terhadap kedaulatan Iran di masa sulit, dan hingga kini dikenang sebagai simbol solidaritas bilateral. Duta Besar Iran menyebut bahwa mengizinkan kapal tanker Jepang saat ini adalah cara Iran membalas kebaikan yang pernah diterima, tanpa agenda tersembunyi.
Keputusan ini menarik perhatian karena Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang kerap menjadi titik ketegangan geopolitik, terutama terkait sanksi Barat terhadap program nuklir Iran. Meski demikian, Iran menegaskan bahwa izin kali ini bersifat khusus dan tidak mencerminkan perubahan kebijakan umum. Analis menilai bahwa langkah ini bisa menjadi sinyal positif bagi hubungan Iran-Jepang yang selama ini relatif stabil, namun belum tentu berdampak langsung pada hubungan Iran dengan negara lain.
Bagi Indonesia, dinamika di Selat Hormuz memiliki implikasi langsung terhadap stabilitas harga minyak dan pasokan energi nasional. Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia rentan terhadap gangguan di jalur tersebut. Keputusan Iran yang menunjukkan fleksibilitas dalam hubungan bilateral dapat menjadi contoh bahwa diplomasi berbasis sejarah dan kepercayaan masih memiliki tempat di tengah ketegangan global. Namun, para pengamat energi mengingatkan bahwa Indonesia perlu terus mendiversifikasi sumber pasokan untuk mengurangi ketergantungan pada satu jalur strategis.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah langkah Iran ini akan membuka peluang bagi Jepang untuk memperkuat kerja sama energi dengan Teheran, atau justru menjadi insiden diplomatik yang terisolasi. Mengingat sanksi Barat terhadap Iran masih berlaku, setiap terobosan hubungan bilateral harus diukur dengan hati-hati agar tidak menimbulkan friksi dengan sekutu utama Jepang, yaitu Amerika Serikat.



