Rupiah Menguat Lagi ke Rp18.055, BI Gelar Intervensi NDF di Tiga Benua
Baca dalam 60 detik
- Rupiah dibuka menguat tipis 0,03% ke Rp18.055 per dolar AS pada Kamis (16/7), melanjutkan tren positif setelah data inflasi AS mereda.
- Pelemahan indeks dolar AS dan data PPI yang lebih rendah dari ekspektasi mendorong aksi jual aset dolar, memberi ruang bagi penguatan mata uang emerging market.
- Bank Indonesia telah melakukan intervensi di pasar NDF offshore sejak April 2026 melalui kantor perwakilan di Singapura, Hong Kong, dan New York untuk menjaga stabilitas rupiah.

Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan kekuatan di hadapan dolar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan Kamis (16/7/2026), menguat tipis ke level Rp18.055 per dolar AS. Pergerakan ini menandai hari kedua berturut-turut mata uang Garuda berada di zona hijau, seiring meredanya tekanan inflasi di Negeri Paman Sam yang mendorong aksi jual dolar secara global.
Berdasarkan data Refinitif, rupiah terapresiasi 0,03% dari posisi penutupan sebelumnya di Rp18.060/US$. Meski tipis, penguatan ini menjadi sinyal positif di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi pasar keuangan global. Indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB terpantau stabil di kisaran 100,505, setelah sehari sebelumnya ambles 0,43%.
Pelemahan dolar AS dipicu oleh rilis data harga produsen (PPI) Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan. Pada Juni 2026, PPI untuk permintaan akhir tercatat turun 0,3%, berbalik dari kenaikan 0,6% pada Mei. Angka ini jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan tidak ada perubahan. Data tersebut memperkuat keyakinan bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan sikap dovish-nya, sehingga tekanan terhadap dolar pun berlanjut.
Meski demikian, pasar tetap waspada terhadap eskalasi ketegangan antara AS dan Iran yang mendorong harga minyak bertahan di dekat level tertinggi sebulan terakhir. Risiko inflasi dari sisi energi belum sepenuhnya padam, dan hal ini bisa membatasi ruang penguatan rupiah lebih lanjut.
Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) terus menggencarkan langkah stabilisasi nilai tukar. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan bahwa bank sentral telah melakukan intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri sejak April 2026. Langkah ini merupakan terobosan untuk memonitor dan memengaruhi pergerakan rupiah di pasar offshore yang selama ini kerap menjadi sumber tekanan.
"Sejak April, BI masuk di pasar NDF 24 jam 6 hari. Kami menggunakan kantor wilayah di luar negeri untuk masuk dan memonitor NDF," kata Destry dalam acara Investment Forum 2026 di Bursa Efek Indonesia, Rabu (15/7). BI mengandalkan kantor perwakilannya di Singapura, Hong Kong, dan New York untuk menjalankan operasi ini. Selain itu, BI memberikan pengecualian atas larangan transaksi NDF jual valas terhadap rupiah bagi dealer utama Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA) tertentu yang memenuhi syarat. Kebijakan ini bersifat selektif dan hanya untuk tujuan stabilisasi, bukan spekulasi.
"Dalam rangka stabilisasi moneter, dealer utama bisa jual NDF, tidak boleh beli. Cover di DNDF sifatnya voluntary. Kenapa primary dealers? Karena mereka memiliki hubungan langsung dengan BI dan banyak terkait dengan Local Currency Transaction (LCT)," papar Destry. BI juga memperluas instrumen operasi moneter valas dengan menambahkan spot dan swap dalam valuta Offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap rupiah, guna memperdalam pasar keuangan domestik.
Langkah BI ini menjadi tameng penting di tengah volatilitas global yang masih tinggi. Pertanyaannya, seberapa efektif intervensi NDF offshore ini dalam jangka panjang? Pasar akan terus menguji komitmen BI, terutama jika tekanan eksternal kembali meningkat akibat kenaikan harga minyak atau perubahan sikap The Fed.



