Kebakaran Pub di Bangkok: Tragedi Berulang, Celah Regulasi, dan Pertanyaan tentang Penegakan Hukum
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran di Rong Beer Na Ladprao, Bangkok, menewaskan 32 orang, mengulang pola tragedi serupa di Thailand yang tak kunjung teratasi.
- Regulasi ketat hanya berlaku di tiga zona hiburan resmi, sementara ribuan tempat usaha beroperasi sebagai restoran tanpa pengawasan memadai.
- Gubernur Bangkok menjanjikan inspeksi mendadak, namun keraguan muncul terkait kapasitas aparat dan praktik suap yang mengakar.

Ledakan api yang tiba-tiba melumat sebuah pub di Bangkok pada Minggu malam lalu telah merenggut 32 jiwa, mengulang kembali pola tragis kebakaran malam hiburan yang seolah tak pernah berakhir di Thailand. Peristiwa di Rong Beer Na Ladprao ini bukanlah yang pertama—tiga tragedi serupa dalam 15 tahun terakhir menunjukkan kelemahan sistemik dalam pengawasan dan penegakan regulasi.
Kebakaran di pub tersebut memiliki kemiripan mencolok dengan insiden di Mountain B, Sattahip, pada 2020 yang menewaskan 26 orang, serta tragedi Santika Club saat perayaan Tahun Baru 2009 yang menewaskan 67 orang. Dalam setiap kasus, pola yang sama muncul: api menjalar cepat dari area panggung atau langit-langit, asap tebal menghalangi jarak pandang, dan korban meninggal akibat menghirup gas beracun, bukan terbakar langsung. "Pertanyaan kuncinya bukan hanya apa penyebab kecelakaan, tetapi mengapa percikan api kecil bisa berujung pada tragedi yang merenggut begitu banyak nyawa," ujar Worsak Kanok-Nukulchai, pakar dari Asian Institute of Technology, yang telah mengingatkan hal serupa pasca kebakaran Mountain B.
Penyebab awal kebakaran diduga berasal dari korsleting listrik yang kemudian menjalar ke material peredam suara yang mudah terbakar. Saat pintu depan dibuka untuk evakuasi, oksigen baru justru memperkuat kobaran api, memaksa pengunjung berlari ke bagian belakang yang ternyata memiliki dua pintu keluar—satu di antaranya dilaporkan terhalang. Pemadaman listrik semakin mempersulit pencarian jalan keluar.
Pasca tragedi Santika 2009, pemerintah Thailand memang memperketat aturan untuk klub malam: material peredam suara harus tahan api, pintu keluar lebih lebar dan membuka ke luar, serta sistem penerangan darurat. Namun, regulasi ini hanya berlaku di tiga zona hiburan yang ditetapkan di Bangkok. Sebagian besar pub dan klub justru beroperasi di luar zona tersebut, dan secara administratif dikategorikan sebagai restoran dengan musik live—sehingga lolos dari kewajiban tersebut. Rong Beer Na Ladprao dan Mountain B termasuk dalam kategori ini. Ironisnya, pub yang terbakar itu baru saja dinyatakan aman dalam inspeksi tiga bulan lalu.
Gubernur Bangkok, Chadchart Sittipunt, akhirnya mengakui adanya celah hukum yang mematikan ini. Ia memerintahkan inspeksi mendadak ke semua tempat yang berlabel restoran namun berfungsi sebagai pub atau klub. "Mulai sekarang kami akan menerapkan standar yang lebih ketat pada tempat-tempat seperti ini. Meski tidak memiliki kewenangan hukum penuh, kami akan memberi rekomendasi. Jika tidak diindahkan, kami akan mencari cara untuk menghentikan operasi mereka," tegasnya dalam konferensi pers. Namun, dengan ribuan tempat usaha di Bangkok, keraguan muncul: apakah Pemerintah Metropolitan Bangkok memiliki cukup petugas untuk melakukan inspeksi? Dan akankah ada resistensi dari pemilik usaha yang mayoritas tidak memenuhi standar?
Persoalan lain yang tak kalah pelik adalah praktik suap yang sudah menjadi rahasia umum. Banyak tempat hiburan di Thailand diduga membayar polisi agar bisa terus beroperasi. Setelah kebakaran Mountain B, lima polisi diskors karena diduga menutup mata terhadap operasional klub yang berkedok restoran, namun hingga kini belum ada tindakan lanjutan. Pemilik Mountain B dan tiga orang lainnya dihukum hingga 10 tahun penjara oleh pengadilan tingkat pertama, tetapi mereka bebas dengan jaminan sambil menunggu banding—proses yang bisa memakan waktu bertahun-tahun. Di kasus Santika, pemilik dan penyelenggara kembang api baru menjalani hukuman enam tahun setelah putusan Mahkamah Agung, sementara tidak ada pejabat lain yang dituntut.
Lemahnya penegakan keselamatan di Thailand tidak terbatas pada tempat hiburan. Angka kematian di jalan raya 10 kali lebih tinggi per kapita dibanding Inggris. Pada Oktober 2024, kebakaran bus menewaskan 23 orang—20 di antaranya anak sekolah—akibat tabung gas ilegal. Januari lalu, 32 penumpang tewas ketika derek konstruksi jatuh menimpa kereta. Dan baru-baru ini, 10 biksu tewas ditabrak pikap yang dikendarai anak berusia 11 tahun. Setiap insiden selalu diikuti janji tindakan tegas, namun kecelakaan terus berulang. Pertanyaannya, akankah tragedi Rong Beer Na Ladprao menjadi titik balik, atau hanya akan menjadi catatan kaki lain dalam sejarah panjang kelalaian?



