Toy Story Cetak Rekor: Waralaba Animasi Sumbang Rp 800 Triliun ke Ekonomi Global
Baca dalam 60 detik
- Studi terbaru yang dipesan Disney mengungkap waralaba Toy Story telah menghasilkan US$51 miliar dalam aktivitas ekonomi global selama tiga dekade.
- Angka tersebut melampaui total biaya akuisisi Pixar, Marvel, dan Lucasfilm oleh Disney yang mencapai US$15,4 miliar.
- Generasi milenial mendominasi dampak ekonomi waralaba ini dengan kontribusi 74 persen, menunjukkan daya tarik lintas generasi.

Waralaba animasi Toy Story milik Disney dan Pixar membuktikan posisinya sebagai franchise animasi terkuat di dunia. Sebuah studi yang dipesan Disney mengungkapkan bahwa waralaba yang dimulai sejak 1995 ini telah menghasilkan US$51 miliar atau setara lebih dari Rp800 triliun dalam aktivitas ekonomi global selama tiga dekade terakhir.
Laporan yang disusun oleh firma konsultan independen Steward Redqueen ini dirilis bertepatan dengan kesuksesan Toy Story 5 yang telah meraup lebih dari US$880 juta di box office global sejak dirilis Juni lalu. Film kelima ini masih memimpin tangga box office, sementara seluruh seri Toy Story menjadi yang paling banyak ditonton di platform streaming Disney+.
Kepala merek Disney, Asad Ayaz, menegaskan bahwa Toy Story adalah waralaba animasi nomor satu perusahaan. Menurutnya, tidak banyak franchise yang mampu bertahan dan dicintai oleh penonton serta kritikus selama tiga dekade. "Orang-orang yang menonton film pertama saat masih kecil kini membawa anak-anak mereka sendiri ke bioskop untuk menonton Toy Story yang baru," ujarnya seperti dikutip Variety.
Studi ini menjadi yang pertama kalinya Disney memesan riset dampak ekonomi yang berfokus pada satu waralaba hiburan. Hasilnya menunjukkan bahwa kontribusi langsung Disney dari Toy Story mencapai US$16,2 miliar melalui penjualan barang dagangan, tiket bioskop, dan hiburan rumah. Angka ini bahkan melampaui total biaya akuisisi Pixar, Marvel, dan Lucasfilm yang mencapai US$15,4 miliar.
Dari total US$51 miliar, hampir US$25 miliar dihasilkan di Amerika Serikat, dengan California dan Floridaโnegara bagian yang menjadi lokasi taman hiburan Disneyโmenjadi penerima manfaat terbesar. Texas, New York, dan Illinois juga mencatat kontribusi signifikan. Studi ini memperhitungkan belanja konsumen untuk rilis teater, Disney+, hiburan rumah, musik, taman hiburan, pengalaman langsung, dan produk berlisensi, serta kontribusi tidak langsung dari pemasok, produsen, distributor, dan pengecer yang terkait dengan waralaba.
Daya tarik multi-generasi menjadi faktor kunci kesuksesan Toy Story. Generasi milenial menyumbang 74 persen dari total dampak ekonomi, diikuti Generasi Z sebesar 19 persen, dan Generasi Alpha tujuh persen. Pola ini menunjukkan bahwa waralaba ini berhasil menjembatani kesenjangan generasi, di mana orang tua yang tumbuh bersama Woody dan Buzz Lightyear kini memperkenalkan karakter tersebut kepada anak-anak mereka.
Bagi Indonesia, kesuksesan Toy Story memberikan gambaran tentang potensi ekonomi industri animasi dan lisensi karakter. Dengan populasi muda yang besar dan penetrasi internet yang terus meningkat, pasar Indonesia bisa menjadi ladang subur bagi franchise animasi global. Namun, tantangan seperti pembajakan dan daya beli yang masih terbatas perlu diatasi agar dampak ekonomi serupa dapat dirasakan di dalam negeri.
Ke depan, Disney tampaknya akan terus memanfaatkan waralaba ini sebagai mesin uang utama. Dengan Toy Story 5 yang masih berjalan sukses dan kemungkinan sekuel atau spin-off baru, pertanyaan yang muncul adalah: mampukah waralaba ini mempertahankan momentumnya di tengah persaingan ketat dari studio animasi lain seperti DreamWorks dan Illumination? Atau justru pasar Asia, termasuk Indonesia, akan menjadi motor pertumbuhan berikutnya?



