Intel Mulai Gunakan Mesin ASML Rp6,4 Triliun untuk Chip Laptop Flagship
Baca dalam 60 detik
- Intel mengintegrasikan mesin litografi High NA ASML senilai US$400 juta ke lini produksi chip Panther Lake, menandai langkah awal adopsi teknologi EUV generasi terbaru.
- Langkah ini memungkinkan Intel dan ASML mengoptimalkan peralatan mahal tersebut, sekaligus memicu perdebatan industri tentang titik impas ekonomi penggunaannya.
- Keputusan Intel berpotensi memengaruhi rantai pasok semikonduktor global, termasuk Indonesia yang bergantung pada impor chip untuk perangkat elektronik.

Intel resmi menggunakan mesin litografi canggih buatan ASML untuk memproduksi sebagian chip laptop flagship Panther Lake, langkah yang mempercepat penguasaan teknologi fabrikasi paling mutakhir di industri semikonduktor. Pengumuman ASML pada Selasa (14/7) ini menandai pertama kalinya peralatan High Numerical Aperture (High NA) Extreme Ultraviolet (EUV) diterapkan dalam produksi komersial, bukan sekadar riset.
Mesin yang dijuluki High NA ini memiliki banderol sekitar US$400 juta atau setara Rp6,4 triliun, dua kali lipat harga mesin EUV standar. Dengan kemampuan mencetak pola sirkuit pada ukuran atom, alat ini dinilai krusial untuk menjaga Hukum Moore—prinsip bahwa jumlah transistor pada chip berlipat ganda setiap dua tahun. Namun, biaya dan kompleksitas teknisnya memicu perdebatan di kalangan produsen chip tentang kapan waktu yang tepat untuk beralih.
Intel menggunakan mesin High NA untuk lapisan tertentu pada chip Panther Lake yang diproduksi dengan proses 18A. Sebelumnya, perusahaan asal Santa Clara itu telah memakai mesin EUV standar ASML untuk proses yang sama. Dengan mengintegrasikan High NA secara bertahap, Intel berharap dapat mengumpulkan data operasional dan mengoptimalkan parameter mesin sebelum digunakan secara penuh. Langkah ini juga membantu ASML menyempurnakan teknologinya.
Bagi Indonesia, langkah Intel ini memiliki implikasi tidak langsung namun signifikan. Sebagai negara pengimpor chip untuk perangkat elektronik, laptop, dan infrastruktur telekomunikasi, adopsi teknologi High NA berpotensi menekan biaya produksi global dalam jangka panjang. Namun, di sisi lain, konsolidasi produsen chip pada peralatan mahal ini dapat memperkuat oligopoli fabrikasi, membuat negara berkembang semakin bergantung pada segelintir pemasok.
Menurut analis industri semikonduktor, keputusan Intel menggunakan High NA untuk chip komersial merupakan sinyal bahwa perusahaan yakin dengan kelayakan ekonomi teknologi tersebut. “Ini bukan lagi sekadar eksperimen laboratorium. Intel mempertaruhkan reputasi dan anggaran besar untuk membuktikan bahwa High NA siap produksi massal,” ujar seorang pengamat yang enggan disebut namanya. Namun, ia menambahkan bahwa adopsi penuh masih membutuhkan waktu bertahun-tahun karena hambatan biaya dan teknis.
Intel sendiri menolak berkomentar mengenai pengumuman ASML. Perusahaan menerima mesin High NA pertama pada 2024 di pusat riset Hillsboro, Oregon, tempat pengembangan teknik manufaktur terbaru. Sejak saat itu, Intel dan ASML bekerja sama mengintegrasikan alat tersebut ke dalam alur produksi.
Ke depan, pertanyaan kunci yang mengemuka adalah: apakah pesaing seperti TSMC dan Samsung akan mengikuti jejak Intel? Jika tidak, Intel berpotensi mendapatkan keunggulan kompetitif dalam memproduksi chip paling canggih. Namun, jika semua pemain besar beralih, tekanan biaya bisa mendorong konsolidasi lebih lanjut di industri hulu semikonduktor—sebuah skenario yang patut dicermati oleh ekosistem teknologi Indonesia yang sangat bergantung pada pasokan global.



