BI Genjot Transaksi Mata Uang Lokal, Perdagangan RI-China Tembus US$9 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Bank Indonesia mencatat nilai transaksi bilateral dengan China melalui skema Local Currency Transaction (LCT) mencapai US$9 miliar per Mei 2026.
- Skema LCT mengurangi ketergantungan pada dolar AS dengan memungkinkan penyelesaian transaksi menggunakan mata uang lokal masing-masing negara.
- BI bersama bank sentral China akan memperdalam pasar valas non-dolar untuk memperkuat stabilitas rupiah dan mengurangi tekanan eksternal.

Bank Indonesia (BI) mencatat terobosan signifikan dalam upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat. Melalui skema Local Currency Transaction (LCT), nilai perdagangan bilateral antara Indonesia dan China telah menembus angka US$9 miliar per Mei 2026. Angka ini menjadi bukti bahwa alternatif pembayaran lintas batas menggunakan mata uang lokal mulai mendapat tempat di kalangan pelaku bisnis dan investor.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa LCT merupakan instrumen kebijakan baru yang dirancang untuk menghadapi tekanan terhadap nilai tukar rupiah tanpa harus mengandalkan cadangan devisa secara berlebihan. Skema ini memungkinkan transaksi ekspor-impor, investasi, dan jasa lainnya diselesaikan langsung dengan mata uang masing-masing negara, seperti yuan China (CNY) atau yen Jepang terhadap rupiah, tanpa perlu konversi ke dolar AS terlebih dahulu.
Menurut Destry, pertumbuhan LCT paling pesat terjadi dengan China dan Jepang. BI telah memfasilitasi pasar spot untuk pasangan mata uang CNY/IDR dan JPY/IDR, sehingga pelaku pasar tidak perlu lagi bergantung pada pasar valas di luar negeri. "Mereka butuh kurs yuan dan yen bisa domestik. Apalagi perdagangan dengan China dengan LCT US$9 miliar per Mei," ujarnya dalam Investment Forum 2026, Rabu (15/7/2026).
Langkah ini dinilai strategis di tengah volatilitas rupiah yang masih tinggi akibat faktor eksternal, seperti kebijakan suku bunga AS dan ketidakpastian ekonomi global. Dengan mengurangi permintaan dolar dalam transaksi bilateral, BI berharap tekanan terhadap rupiah dapat diredam. Destry menambahkan, "Ini kalau kita bisa manage, bisa kasih dampak positif ke ekonomi."
Ke depan, BI akan berkolaborasi dengan bank sentral China (People's Bank of China) untuk memperdalam pasar valas non-dolar, termasuk sosialisasi mekanisme LCT kepada lebih banyak pelaku usaha. Bagi Indonesia, perluasan LCT bukan hanya soal diversifikasi mata uang, tetapi juga memperkuat posisi tawar dalam perdagangan internasional dan mengurangi risiko nilai tukar. Pertanyaannya, sejauh mana skema ini mampu menggeser dominasi dolar dalam jangka panjang, terutama di tengah masih kuatnya peran greenback sebagai mata uang global?



