Serangan Udara Israel ke Kantor Polisi di Gaza Tewaskan Delapan Orang
Baca dalam 60 detik
- Delapan orang tewas dalam serangan udara Israel terhadap kantor polisi di kamp pengungsi Jabalia, Gaza utara, termasuk seorang polisi wanita dan kepala kantor polisi setempat.
- Israel mengklaim serangan itu menargetkan empat militan Hamas yang berkumpul untuk merencanakan aksi teror, namun otoritas Gaza menyebut korban termasuk personel polisi sipil.
- Kekerasan di Gaza terus berlanjut meskipun gencatan senjata berlaku, dengan lebih dari 1.100 warga Palestina tewas sejak perjanjian damai.

Serangan udara Israel terhadap sebuah kantor polisi di Gaza utara pada Selasa (14/7) menewaskan delapan orang, termasuk seorang polisi wanita dan kepala kantor polisi setempat. Insiden ini kembali memicu ketegangan di tengah gencatan senjata yang rapuh antara Israel dan Hamas.
Menurut Badan Pertahanan Sipil Gaza yang beroperasi di bawah kendali Hamas, delapan jenazah telah diterima oleh Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza City. Serangan terjadi di bagian barat Kamp Pengungsi Jabalia, wilayah padat penduduk yang kerap menjadi sasaran operasi militer Israel. Hamas, yang menguasai kepolisian di Gaza, mengecam serangan tersebut dan menyatakan bahwa kepala kantor polisi termasuk di antara korban tewas.
Di sisi lain, militer Israel mengonfirmasi bahwa serangan itu menargetkan empat militan Hamas yang dianggap sebagai ancaman. Dalam pernyataan resmi, militer Israel mengatakan bahwa para militan tersebut telah berkumpul dalam beberapa bulan terakhir dengan tujuan merencanakan dan melaksanakan aksi teror. "Mereka dilenyapkan untuk menghilangkan ancaman," demikian bunyi pernyataan tersebut, tanpa memberikan rincian mengenai empat korban lainnya.
Kekerasan di Gaza terus berlanjut meskipun gencatan senjata telah berlaku. Sejak perjanjian damai diberlakukan, Kementerian Kesehatan Gazaโyang berada di bawah otoritas Hamas dan dianggap kredibel oleh Perserikatan Bangsa-Bangsaโmencatat setidaknya 1.110 warga Palestina tewas. Sementara itu, militer Israel melaporkan kehilangan lima tentara dan satu kontraktor sipil dalam periode yang sama.
Bagi Indonesia, konflik Gaza selalu menjadi perhatian serius mengingat solidaritas kuat terhadap perjuangan Palestina. Pemerintah Indonesia secara konsisten menyerukan penghentian kekerasan dan solusi dua negara. Serangan terbaru ini berpotensi memicu reaksi diplomatik dari Jakarta, yang selama ini aktif mendukung kemerdekaan Palestina di forum internasional. Masyarakat Indonesia, terutama kelompok pro-Palestina, kemungkinan akan kembali menggelar aksi solidaritas.
Analis menilai bahwa serangan semacam ini memperumit upaya perdamaian yang sudah rapuh. Gencatan senjata yang disepakati beberapa waktu lalu tidak mampu menghentikan kekerasan secara total. Setiap insiden baru berisiko memicu eskalasi lebih lanjut, mengingat kedua belah pihak masih saling curiga dan belum ada kemajuan berarti dalam negosiasi politik.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah komunitas internasional mampu mendorong kedua pihak kembali ke meja perundingan, atau justru kekerasan akan terus berlanjut dengan korban jiwa yang terus bertambah. Indonesia, sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, memiliki peluang untuk menyuarakan keprihatinan dan mendorong resolusi yang lebih tegas.



