Jepang Putar Haluan Pasokan Minyak: Diversifikasi Sumber dan Dukung Jalur Alternatif Hormuz
Baca dalam 60 detik
- Asosiasi Perminyakan Jepang (PAJ) mengumumkan rencana diversifikasi sumber minyak mentah dan dukungan terhadap proyek pipa yang mem-bypass Selat Hormuz.
- Langkah ini didorong oleh kerentanan pasokan akibat ketegangan di Timur Tengah, dengan minyak AS menjadi opsi diversifikasi meski terbatas oleh konfigurasi kilang.
- Pemerintah Jepang tengah menyusun paket ketahanan energi yang diharapkan rampung akhir Agustus, berpotensi mempengaruhi pasar energi global dan harga minyak.

Jepang, negara pengimpor minyak terbesar keempat di dunia, mulai merombak strategi pasokan energinya. Asosiasi Perminyakan Jepang (PAJ) secara resmi menyatakan akan memperluas sumber minyak mentah dan menjajaki dukungan terhadap proyek pipa minyak yang mem-bypass Selat Hormuz, jalur laut paling strategis sekaligus rawan konflik di Timur Tengah.
Langkah ini merupakan respons langsung terhadap kerentanan yang terpapar selama krisis Iran. Shunichi Kito, Presiden PAJ yang juga menjabat Chairman Idemitsu Kosan, menekankan bahwa prioritas utama bukanlah sekadar mengganti minyak Timur Tengah, melainkan membangun jalur alternatif yang benar-benar andal. "Menciptakan alternatif yang layak untuk minyak yang diangkut melalui Selat Hormuz adalah hal yang sangat penting," ujarnya dalam konferensi pers di Tokyo.
Produsen minyak utama seperti Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi telah meminta partisipasi atau dukungan pemerintah Jepang untuk proyek perluasan pipa minyak yang menghindari Selat Hormuz. UEA berencana mempercepat pembangunan pipa baru untuk menggandakan kapasitas ekspor melalui Pelabuhan Fujairah pada 2027, sementara Saudi tengah mengkaji peningkatan kapasitas pipa menuju pantai Laut Merah di barat.
Di tengah upaya diversifikasi, minyak mentah Amerika Serikat muncul sebagai salah satu kandidat. Namun, Kito mengakui bahwa konfigurasi kilang Jepang saat ini lebih cocok untuk crude grade dari Timur Tengah, sehingga sulit menyerap volume besar minyak AS dalam waktu dekat. Ini menunjukkan bahwa transisi tidak akan instan dan membutuhkan investasi jangka panjang.
Bagi Indonesia, langkah Jepang ini memiliki implikasi strategis. Sebagai sesama negara pengimpor minyak di Asia, Indonesia juga rentan terhadap gangguan pasokan di Selat Hormuz. Jika Jepang berhasil membangun jalur alternatif dan meningkatkan fleksibilitas kilang, hal ini dapat mengurangi tekanan pada pasar minyak Asia dan berpotensi menstabilkan harga. Namun, jika proyek pipa baru justru memperkuat dominasi produsen Timur Tengah, Indonesia mungkin menghadapi persaingan yang lebih ketat dalam mengamankan kontrak pasokan.
Pemerintah Jepang sendiri tengah menyusun paket ketahanan energi yang diharapkan rampung pada akhir Agustus. Paket ini tidak hanya bertujuan memastikan pasokan stabil, tetapi juga memperkuat daya saing industri. Kito menolak berkomentar soal skema penimbunan nafta yang sempat disebut Menteri Perindustrian Ryosei Akazawa, namun isu ini tetap menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan.
Ke depan, Jepang akan memperkuat rantai pasok dengan memperdalam hubungan dengan negara produsen, mengamankan kapasitas tanker, dan meningkatkan fleksibilitas kilang. Pertanyaannya, akankah langkah ini cukup untuk mengurangi ketergantungan pada satu titik rawan, atau justru menciptakan ketergantungan baru? Yang jelas, pergeseran strategi energi Jepang akan menjadi sinyal penting bagi pasar minyak global dan negara-negara importir di Asia, termasuk Indonesia.



