Prasabri Pesti Ditunjuk sebagai Plt Dirut Pos Indonesia: Tanda Pembenahan Besar-Besaran?
Baca dalam 60 detik
- Prasabri Pesti, Direktur Transformasi dan IT Pos Indonesia, resmi menjabat Plt Direktur Utama menggantikan Daud Joseph yang mundur setelah tiga bulan.
- BPI Danantara mengungkapkan temuan dugaan rekayasa keuangan dan tata kelola buruk di Pos Indonesia yang telah terakumulasi bertahun-tahun.
- Restrukturisasi menyeluruh tengah berjalan, dengan fokus pada profesionalisme, transparansi, dan kepatuhan hukum untuk memulihkan kinerja BUMN logistik tersebut.

PT Pos Indonesia (Persero) kembali mengalami pergantian pucuk pimpinan di tengah upaya pembenahan besar-besaran yang digalakkan induk holding BUMN. Prasabri Pesti, yang sebelumnya menjabat Direktur Transformasi dan IT, ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama per Rabu (15/7/2026), menggantikan Daud Joseph yang mengundurkan diri setelah hanya tiga bulan memimpin.
Keputusan ini diumumkan melalui keterbukaan informasi resmi perusahaan. Prasabri bukan wajah baru di lingkungan BUMN. Sebelum bergabung dengan Pos Indonesia, ia pernah menjabat Head of Digital Vertical Ecosystem di Telkom Indonesia dan Direktur Utama PT PINS Indonesia. Latar belakang digitalnya dinilai relevan untuk memacu transformasi di tengah tekanan bisnis logistik yang kian kompetitif.
Pengunduran diri Daud Joseph sendiri telah diterima manajemen pada 2 Juli 2026. Corporate Secretary Iwan Gunawan menyatakan alasan mundurnya adalah murni keputusan pribadi. Namun, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) memberikan gambaran lebih gamblang: Joseph diberi mandat untuk melakukan due diligence menyeluruh terhadap kondisi keuangan, operasional, tata kelola, dan organisasi perusahaan. Hasil asesmen itulah yang kemudian menjadi dasar rekomendasi perlunya perubahan kepemimpinan.
Managing Director Stakeholders Management & Communications BPI Danantara, Rohan Hafas, mengungkapkan bahwa hasil due diligence menunjukkan kompleksitas persoalan yang dihadapi Pos Indonesia. "Perusahaan memerlukan revamp yang menyeluruh dan fundamental. Kompleksitas persoalan serta agenda restrukturisasi ke depan membutuhkan expertise yang lebih spesifik," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (3/6/2026). Ia juga menegaskan bahwa berbagai penyimpangan, termasuk dugaan rekayasa keuangan, sedang ditindaklanjuti secara profesional dan sesuai proses hukum.
Bagi Indonesia, kondisi Pos Indonesia menjadi sorotan karena perannya sebagai BUMN logistik yang melayani masyarakat hingga pelosok negeri. Pembenahan menyeluruh diharapkan tidak hanya menyelamatkan perusahaan dari kerugian, tetapi juga meningkatkan kualitas layanan publik. Langkah BPI Danantara yang transparan mengenai temuan penyimpangan juga menjadi sinyal positif bagi tata kelola BUMN ke depannya.
Ke depan, Prasabri Pesti dihadapkan pada tantangan besar: memimpin transformasi di tengah temuan masalah keuangan dan tata kelola yang mengakar. Pertanyaannya, akankah ia mampu membawa Pos Indonesia keluar dari jerat masalah lama dan bersaing di era logistik digital? Waktu yang akan menjawab, namun langkah awal pembenahan sudah mulai terlihat.



