Adi Hütter Kembali ke Frankfurt: Misi Bangkitkan Die Adler dari Keterpurukan
Baca dalam 60 detik
- Adi Hütter resmi memulai periode keduanya sebagai pelatih Eintracht Frankfurt dengan sesi latihan perdana yang disaksikan 2.000 suporter.
- Pelatih asal Swiss itu bertekad menerapkan sepak bola proaktif dan agresif untuk mengembalikan kepercayaan publik setelah musim lalu yang mengecewakan.
- Frankfurt akan memulai laga pramusim pada 18 Juli, dengan target utama merebut tiket Eropa musim depan.

Adi Hütter resmi memulai babak baru di Eintracht Frankfurt. Pelatih berusia 56 tahun itu memimpin sesi latihan perdana tim pada Senin (6/7) di hadapan sekitar 2.000 pendukung yang memadati fasilitas latihan, menandai kembalinya ia ke Deutsche Bank Park setelah lima tahun absen.
Hütter, yang sebelumnya menukangi Frankfurt pada 2018–2021, menggantikan Albert Riera yang dipecat setelah musim 2025/26 yang buruk. Dalam sesi pertamanya, ia mengaku langsung merasakan keakraban. “Rasanya aneh kembali ke lapangan setelah lima tahun, tapi terasa seperti baru kemarin. Itu memberi saya kekuatan dan kepercayaan diri yang luar biasa,” ujarnya.
Antusiasme suporter menjadi sinyal positif bagi Hütter. “Melihat 2.000 orang datang ke latihan pertama menunjukkan antusiasme masih ada. Kami ingin melibatkan mereka dan memberi sesuatu sebagai balasan,” tambahnya. Ia menegaskan filosofi permainannya tidak berubah: sepak bola proaktif, agresif, dan menghibur. “Dari menit pertama, kami harus bermain ke depan, terlibat dalam setiap duel, dan memberikan segalanya. Jika fans melihat kami berjuang, mereka tak akan kecewa,” tegasnya.
Musim lalu menjadi mimpi buruk bagi Die Adler. Selain gagal merebut tiket Eropa, performa tim tidak konsisten dan ruang ganti dilaporkan kurang harmonis. Hütter menyadari tantangan besar menanti. “Kami menghadapi transformasi yang signifikan. Karena itu, saya tidak mau bicara tentang masa lalu, tapi fokus ke depan,” ucapnya.
Kembalinya Hütter diharapkan membawa stabilitas. Ia dikenal sebagai pelatih yang mampu membangun tim dengan identitas jelas. Pada periode pertamanya, ia membawa Frankfurt finis di papan atas Bundesliga dan lolos ke Liga Europa. Kini, ia harus membangun ulang kepercayaan diri skuad yang mayoritas masih muda.
Jadwal padat sudah menanti. Setelah uji coba melawan Gießen, Frankfurt akan memulai musim resmi di putaran pertama DFB-Pokal melawan St. Tönis pada 21 Agustus. Tiga hari kemudian, mereka bertandang ke Stadion An der Alten Försterei untuk menghadapi Union Berlin di laga perdana Bundesliga. Pertandingan itu akan menjadi ujian awal sejauh mana transformasi yang dijanjikan Hütter berjalan.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Hütter bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya kesabaran dan visi jangka panjang. Klub-klub di Liga 1 sering kali berganti pelatih dengan cepat saat hasil tidak memuaskan, tanpa memberi waktu untuk membangun fondasi. Frankfurt memilih kembali ke pelatih yang sudah terbukti, sebuah langkah yang mungkin patut dicontoh.
Pertanyaan besarnya: apakah Hütter mampu mengulang sukses seperti lima tahun lalu? Atau justru tekanan ekspektasi akan menjadi bumerang? Jawabannya akan mulai terlihat pada laga-laga awal musim ini.



