Piala Dunia 2026: Premier League Mendominasi Lini Belakang, tapi Serangan Milik Liga Lain
Baca dalam 60 detik
- Empat semifinalis Piala Dunia 2026 memiliki 41 pemain Premier League, namun sebagian besar adalah bek, bukan penyerang.
- Gol-gol Inggris dan Prancis di turnamen ini tidak ada yang dicetak oleh pemain yang bermain di Premier League musim lalu.
- Premier League tetap menjadi pemasok gol terbanyak secara keseluruhan, tetapi pengaruhnya di lini depan semifinalis sangat minim.

Piala Dunia 2026 memasuki babak semifinal dengan fakta menarik: Premier League menjadi pemasok pemain terbanyak di antara empat tim tersisa, tetapi dominasi itu hanya terlihat di lini belakang. Dari 41 pemain yang berlaga di Inggris musim lalu, sebagian besar adalah bek atau kiper, sementara para penyerang bintang justru berkarier di liga lain.
Data menunjukkan bahwa Prancis, Spanyol, dan Argentina memiliki total 20 pemain yang tampil di Premier League musim 2025/26. Ditambah 21 pemain Inggris yang seluruhnya bermain di liga tersebut—kecuali Anthony Gordon yang pindah ke Barcelona—maka Premier League unggul jauh dibanding La Liga yang hanya menyumbang 29 pemain. Namun, jika dirinci berdasarkan posisi, ketimpangan langsung terlihat.
Argentina mengandalkan Cristian Romero (Tottenham) dan Lisandro Martinez (Manchester United) di jantung pertahanan. Prancis memiliki William Saliba (Arsenal) dan Lucas Digne (Aston Villa). Spanyol diperkuat Marc Cucurella (Chelsea) dan Pedro Porro (Tottenham). Inggris bahkan menurunkan enam pemain bertahan plus kiper yang semuanya berasal dari Premier League saat mengalahkan Norwegia 2-1 di perempat final.
Kondisi sebaliknya terjadi di lini depan. Prancis menurunkan trio Desire Doue (PSG), Kylian Mbappe (Real Madrid), dan Ousmane Dembele (PSG) saat menekuk Maroko 2-0. Spanyol mengandalkan Alex Baena (Atletico Madrid), Mikel Oyarzabal (Real Sociedad), dan Lamine Yamal (Barcelona). Argentina memasangkan Julian Alvarez (Atletico Madrid) dengan Lionel Messi (Inter Miami). Inggris hanya memiliki Noni Madueke sebagai satu-satunya penyerang yang masih bermain di Premier League musim depan.
Data gol semakin mempertegas tren ini. Inggris mencetak 13 gol dalam perjalanan ke semifinal, tetapi tidak satupun dicetak oleh pemain yang bermain di Premier League musim lalu. Enam gol dicetak Jude Bellingham (Real Madrid), enam oleh Harry Kane (Bayern Munich), dan satu oleh Marcus Rashford (saat itu dipinjamkan ke Barcelona). Prancis juga tanpa gol dari pemain Premier League dari total 16 gol mereka. Argentina mendapat empat gol dari kontingen Premier League, sementara Spanyol tiga gol.
Fenomena ini memicu perdebatan di kalangan pengamat. Jurnalis Rory Smith berpendapat bahwa pemain yang bermain di luar Premier League mungkin diuntungkan karena terhindar dari "grind" mingguan liga Inggris yang sangat kompetitif. Namun, mantan striker Inggris Chris Sutton menolak anggapan itu, dengan mengatakan tidak ada bukti jelas bahwa tuntutan fisik Premier League menjadi kerugian di turnamen besar.
Menariknya, secara keseluruhan turnamen, pemain Premier League justru mencatatkan kontribusi gol tertinggi: 70 gol dan 57 assist (127 keterlibatan gol), jauh di atas La Liga (66) dan Bundesliga (52). Artinya, Premier League tetap menjadi mesin produksi gol paling produktif, tetapi kontribusi itu tidak merata di empat tim teratas. Para penyerang top seperti Erling Haaland (Manchester City) sudah tersingkir di perempat final bersama Norwegia.
Bagi Indonesia, data ini relevan karena menunjukkan bahwa menjadi pemain bertahan di Premier League bisa menjadi batu loncatan ke panggung dunia, sementara penyerang mungkin perlu mencari tantangan di liga lain untuk bersinar. Dengan makin banyaknya pemain Asia Tenggara yang merambah Eropa, pelajaran ini bisa menjadi pertimbangan bagi pengembangan sepak bola nasional: apakah lebih baik fokus melahirkan bek tangguh atau striker yang siap bersaing di level tertinggi?
Piala Dunia 2026 belum usai, dan masih ada kemungkinan lini depan berbasis Premier League membuktikan diri di semifinal. Namun, jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin klub-klub Inggris akan mulai mempertanyakan strategi rekrutmen mereka—apakah lebih baik mempertahankan pemain depan sendiri atau justru melepas mereka ke liga lain demi pengalaman yang berbeda?



