De Laurentiis: Klub Hanya Boneka UEFA-FIFA, Mereka Kaya Raya dari Kami
Baca dalam 60 detik
- Presiden Napoli Aurelio De Laurentiis mengumumkan rencana stadion baru berkapasitas 70.000 kursi di luar Stadio Maradona, meski berbenturan dengan rencana pemerintah kota.
- Ia mengecam UEFA dan FIFA sebagai institusi yang memperkaya diri dari klub, sementara klub sendiri terus merugi meski pendapatan besar.
- De Laurentiis menilai masalah utama sepak bola bukan pada perbedaan kualitas liga, melainkan regulasi antarnegara yang timpang.

Presiden Napoli, Aurelio De Laurentiis, kembali melontarkan kritik pedas terhadap UEFA dan FIFA, menyebut klub-klub Eropa hanya wayang yang diperas untuk memperkaya dua badan sepak bola dunia itu. Pernyataan tersebut disampaikan di sela-sela perkenalan pelatih baru Max Allegri di Teatro San Carlo, Naples, Selasa (12/3).
Dalam kesempatan itu, De Laurentiis juga membeberkan ambisinya membangun stadion baru berkapasitas 70.000 penonton lengkap dengan 120 sky box. Lokasi yang tengah dikaji adalah bekas kilang Q8 di San Giovanni a Teduccio. Namun, rencana ini berbenturan dengan keinginan pemerintah kota Naples yang lebih memilih merenovasi Stadio Diego Armando Maradona.
De Laurentiis, yang juga dikenal sebagai produser film Hollywood, menegaskan bahwa kesenjangan antara Serie A dan liga lain bukan terletak pada kualitas permainan, melainkan pada regulasi antarnegara. โKami terus bekerja dalam dunia sepak bola yang tidak dikelola oleh kami. Seharusnya kamilah yang memegang kendali, tetapi justru kami diatur oleh institusi yang memperkaya diri dari kami,โ ujarnya.
Ia menyoroti bahwa klub-klub besar di Italia dan Inggris pun kerap mencatatkan kerugian meski pendapatan mereka jauh lebih tinggi. โAda klub di Inggris dengan pendapatan tiga atau empat kali lipat dari kami, tetapi neraca mereka tetap merah. Itu artinya ada yang tidak beres dalam sepak bola,โ kata De Laurentiis.
Kritik paling tajam diarahkan ke UEFA dan FIFA. Menurutnya, klub-klub Eropa hanyalah boneka yang melayani kepentingan dua organisasi tersebut. โDi Eropa, kita semua adalah boneka yang melayani UEFA dan FIFA. Mereka memperkaya diri dari kita, dan kita bahkan tidak bisa mengintip keuangan mereka,โ tegasnya.
Pernyataan De Laurentiis ini menambah panjang daftar keluhan para presiden klub terhadap distribusi pendapatan sepak bola global. Di Italia, isu ini semakin relevan mengingat banyak klub Serie A kesulitan bersaing secara finansial dengan klub-klub Inggris yang didukung siaran televisi bernilai tinggi. Sementara itu, bagi pengamat sepak bola Indonesia, kritik semacam ini mengingatkan pada ketimpangan yang juga dirasakan klub-klub Asia saat berhadapan dengan raksasa Eropa dalam hal pendapatan dan regulasi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah klub-klub Eropa akan mampu membentuk aliansi yang cukup kuat untuk menekan UEFA dan FIFA, atau justru semakin terpecah oleh kepentingan masing-masing. De Laurentiis sendiri tampaknya akan terus vokal, setidaknya hingga stadion barunya berdiri.



