Tower Semiconductor Gelontorkan Rp45 Triliun untuk Pabrik Cip di Jepang, Dukungan AI Jadi Target
Baca dalam 60 detik
- Produsen chip asal Israel, Tower Semiconductor, mengumumkan investasi senilai USD3 miliar untuk memperluas kapasitas produksi semikonduktor di Jepang, dengan dukungan hibah pemerintah setempat sebesar USD1 miliar.
- Ekspansi ini difokuskan pada teknologi silikon fotonik dan silikon-germanium yang menjadi kunci percepatan transfer data di pusat data dan kecerdasan buatan (AI).
- Proyek dua fase ini menargetkan pendapatan USD3,6 miliar pada 2028, naik signifikan dari proyeksi sebelumnya, dan membuka peluang bagi rantai pasok global termasuk Indonesia.

Produsen semikonduktor asal Israel, Tower Semiconductor, memutuskan untuk menggelontorkan dana sebesar USD3 miliar atau setara Rp45 triliun guna memperkuat lini produksi chip di Jepang. Langkah ini mendapat sokongan hibah dari pemerintah Jepang senilai USD1 miliar, menandai komitmen Negeri Sakura dalam memperkuat kemandirian industri semikonduktornya di tengah persaingan global yang kian ketat.
Keputusan investasi ini langsung disambut positif oleh pasar. Saham Tower Semiconductor yang terdaftar di bursa Amerika Serikat melonjak lebih dari 18 persen dalam perdagangan pramarket. Sentimen positif tersebut mencerminkan keyakinan investor bahwa ekspansi ini akan menjadi motor utama pertumbuhan perusahaan, terutama dalam memenuhi permintaan yang terus meningkat dari sektor kecerdasan buatan (AI) dan pusat data.
Fokus utama dari investasi ini adalah pengembangan teknologi silikon fotonik dan silikon-germanium. Silikon fotonik memanfaatkan cahaya untuk mentransfer data antar chip AI dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi, sementara silikon-germanium memungkinkan pembuatan perangkat semikonduktor yang lebih cepat dan hemat energi. Kedua teknologi ini menjadi tulang punggung bagi infrastruktur komputasi generasi mendatang.
Ekspansi akan dilakukan dalam dua fase. Fase pertama meliputi konversi fasilitas Arai di Jepangโyang sebelumnya dikenal sebagai Fab 6โmenjadi pabrik produksi silikon fotonik dengan diameter 300 milimeter. Operasi penuh fase ini ditargetkan pada kuartal keempat tahun 2027. Fase kedua akan berjalan bersamaan, yakni pembangunan pabrik 300mm baru di samping fasilitas Fab 7 yang sudah ada. "Kami melihat jalur kedua ini sebagai landasan pertumbuhan berkelanjutan jauh melampaui tahun 2028," ujar CEO Tower Semiconductor, Russell Ellwanger.
Dengan rampungnya kapasitas awal ini, Tower memperkirakan pendapatan tahun 2028 akan mencapai USD3,6 miliar, melonjak dari proyeksi sebelumnya sebesar USD2,8 miliar. Laba bersih pun diproyeksikan naik menjadi USD1,2 miliar, dibandingkan perkiraan awal USD750 juta. Angka-angka ini menunjukkan optimisme tinggi terhadap permintaan chip khusus untuk AI dan komputasi berkinerja tinggi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi strategis. Sebagai negara dengan ekosistem manufaktur elektronik yang terus tumbuh, Indonesia dapat menjadi pasar potensial bagi chip-chip buatan Tower. Selain itu, investasi besar di Jepang berpotensi memperkuat rantai pasok semikonduktor di Asia Timur, yang pada gilirannya dapat membuka peluang kerja sama dengan industri dalam negeri, terutama di sektor kendaraan listrik, telekomunikasi, dan pusat data. Namun, Indonesia juga perlu waspada terhadap ketergantungan impor chip yang semakin tinggi jika tidak segera membangun kapasitas produksi sendiri.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah Tower Semiconductor mampu mempertahankan momentum pertumbuhan seiring dengan siklus industri semikonduktor yang fluktuatif. Dengan target pendapatan yang ambisius, perusahaan harus bisa menavigasi tantangan geopolitik dan persaingan dari raksasa seperti TSMC dan Samsung. Namun, dengan dukungan penuh pemerintah Jepang dan fokus pada teknologi mutakhir, Tower tampaknya berada di jalur yang tepat untuk menjadi pemain kunci dalam era komputasi AI.



