Kacamata AI untuk Mencontek: Kasus Pertama di Korea Selatan Mengguncang Sistem Ujian Nasional
Baca dalam 60 detik
- Seorang pria berusia 40-an di Korea Selatan didakwa menggunakan kacamata bertenaga AI untuk mencontek pada ujian sertifikasi insinyur proteksi kebakaran, menandai pertama kalinya perangkat tersebut dipakai dalam kecurangan akademik.
- Pengawas ujian mencurigai pantulan cahaya aneh pada lensa kacamata pelaku, yang kemudian mengaku mengembangkan aplikasi AI khusus untuk menampilkan jawaban.
- Kasus ini memicu rapat darurat penyelenggara ujian nasional Korea Selatan yang mempertimbangkan larangan eksplisit kacamata AI dan sanksi lebih berat bagi pelaku kecurangan.

Korea Selatan mencatat sejarah kelam dalam dunia pendidikan ketika seorang pria paruh baya ditangkap karena menggunakan kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mencontek pada ujian sertifikasi nasional. Ini adalah pertama kalinya otoritas hukum Negeri Ginseng mengambil tindakan terhadap penyalahgunaan perangkat wearable AI di ruang ujian, membuka babak baru dalam perang melawan kecurangan akademik yang semakin canggih.
Kejadian bermula pada Mei lalu di Gwangju, saat seorang peserta ujian sertifikasi insinyur proteksi kebakaran mencurigakan. Pengawas ujian melihat pantulan cahaya tidak wajar dari lensa kacamatanya. Setelah diperiksa, ternyata kacamata tersebut terhubung ke aplikasi AI buatan sendiri yang dirancang untuk menampilkan jawaban secara real-time. Pria berusia 40-an itu mengaku mengembangkan aplikasi tersebut untuk menguji apakah jawaban benar dapat ditampilkan dengan baik.
Kantor Kejaksaan Distrik Gwangju secara ringkas mendakwa pelaku pada bulan lalu dengan tuduhan melanggar Undang-Undang Kualifikasi Teknis Nasional. Dalam penyidikan, ia mengakui perbuatannya. Tak hanya satu orang, dua pria lain berusia 20-an juga terlibat dalam kasus serupa di Seoul dan Mokpo pada bulan yang sama. Mereka menggunakan metode yang persis sama: kacamata AI yang menyembunyikan jawaban di balik lensa.
Modus operandi ini tidak terbatas pada ujian teknis. Dalam ujian TOEIC, tiga orang lainnya tertangkap pada Mei dan Juni dengan cara serupa. Fenomena ini menunjukkan bahwa kacamata AI telah menjadi alat kecurangan lintas jenis ujian, mengancam integritas sistem evaluasi nasional Korea Selatan.
Menanggapi maraknya kasus ini, pejabat dari lembaga yang menyelenggarakan ujian kualifikasi nasional menggelar rapat darurat pada 10 Juli. Mereka membahas langkah-langkah pencegahan, termasuk secara eksplisit menambahkan kacamata AI ke dalam daftar barang terlarang di ruang ujian dan memperkuat sanksi bagi pelaku kecurangan. Langkah ini menjadi sinyal bahwa otoritas Korea Selatan tidak akan tinggal diam terhadap ancaman teknologi baru.
Kasus ini membuka mata banyak pihak, termasuk di Indonesia, tentang potensi penyalahgunaan teknologi wearable dalam dunia pendidikan. Dengan semakin murah dan canggihnya perangkat seperti kacamata pintar, pengawas ujian di Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan. Belum ada laporan serupa di Tanah Air, namun bukan tidak mungkin modus ini akan menyusul. Regulasi yang jelas dan deteksi dini menjadi kunci untuk mencegah kecurangan serupa.
Ke depan, pertanyaan besar muncul: apakah teknologi AI akan terus menjadi ancaman bagi integritas ujian, atau justru bisa dimanfaatkan untuk menciptakan sistem pengawasan yang lebih ketat? Yang jelas, kasus Korea Selatan ini menjadi peringatan dini bagi dunia pendidikan global untuk beradaptasi dengan tantangan era AI.



