Pemerasan Seksual Online Incar Pria Muda Australia, Regulator Desak Platform Bertindak
Baca dalam 60 detik
- Otoritas keamanan siber Australia menerima lebih dari 2.200 aduan pemerasan seksual dalam enam bulan, dengan korban terbanyak pria berusia 18โ24 tahun.
- Instagram dan WhatsApp menjadi platform paling sering disebut dalam kasus tersebut, sementara TikTok kerap menjadi titik awal kontak dengan pelaku pada anak-anak.
- Regulator menilai perusahaan teknologi lamban menangani laporan, meski bukti dan teknologi deteksi sudah tersedia.

Pria muda dan remaja laki-laki di Australia menjadi sasaran utama kejahatan pemerasan seksual berbasis media sosial, demikian temuan laporan terbaru regulator keamanan siber setempat. Komisioner eSafety Australia mencatat lebih dari 2.200 aduan diterima dalam enam bulan hingga Desember lalu, dengan kelompok usia 18โ24 tahun mendominasi angka korban.
Modus operandi yang terungkap memperlihatkan pola sistematis: pelaku berpura-pura menjalin kedekatan, lalu membujuk korban mengirimkan gambar intim melalui aplikasi pesan pribadi. Setelah itu, ancaman penyebaran foto ke keluarga dan teman dilontarkan disertai permintaan uang. Dalam salah satu kasus yang disorot laporan, seorang remaja 16 tahun bernama Sam diiming-imingi oleh akun palsu bernama "Jessica" di Instagram, kemudian dipindahkan ke WhatsApp untuk diminta foto telanjang. Tak sampai semenit, ia ditekan membayar 200 dolar Australia (sekitar Rp2,1 juta) dengan saran mencuri uang orang tuanya.
Data menunjukkan 803 aduan berasal dari pria berusia 18โ24 tahun, sementara anak di bawah 15 tahun juga tidak luput: 186 aduan dari anak laki-laki dan 58 dari anak perempuan. Instagram dan WhatsApp menjadi platform yang paling sering disebut dalam laporan, sedangkan TikTok lebih banyak diidentifikasi sebagai tempat awal kontak oleh korban anak-anak.
Komisioner eSafety, Julie Inman Grant, menegaskan bahwa laporan ini mengungkap "kesenjangan signifikan" dalam cara platform melindungi pengguna. Ia menyoroti bahwa perusahaan teknologi lamban merespons laporan korban meski regulator telah memberikan bukti nyata tentang bagaimana layanan mereka dimanfaatkan penjahat. "Kami melihat rantai pembunuhan, skrip, dan gambar yang sama digunakan di berbagai kasus. Platform seharusnya bisa mendeteksinya," ujarnya dalam pernyataan resmi.
Grant juga menekankan bahwa alat analisis bahasa seharusnya digunakan untuk mendeteksi pola pemerasan, namun sering terhalang oleh enkripsi pada layanan pesan pribadi. Ia mendesak platform untuk mempercepat respons dan menerapkan teknologi yang sudah tersedia. Sebagai langkah konkret, Meta pada Maret lalu mengumumkan akan menghapus enkripsi pada pesan pribadi Instagram untuk memudahkan deteksi konten berbahaya.
Fenomena ini relevan bagi Indonesia, mengingat penetrasi media sosial dan aplikasi pesan instan yang tinggi di kalangan anak muda. Kasus serupa juga marak dilaporkan di dalam negeri, namun data dan penanganan masih terfragmentasi. Regulator Australia menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara untuk memutus rantai kejahatan yang seringkali melibatkan sindikat internasional. Pertanyaannya, apakah platform global akan merespons dengan langkah nyata atau membiarkan celah ini terus dieksploitasi?



