Rumah Satu Lantai Makin Digemari di Jepang: Tren yang Bisa Menular ke Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Proporsi rumah satu lantai di Jepang melonjak dari 8,5% menjadi 23,2% dalam satu dekade, meski konstruksi perumahan secara keseluruhan menurun.
- Tren ini didorong oleh menyusutnya jumlah anggota keluarga dan kebutuhan pasangan pekerja ganda akan hunian praktis tanpa tangga.
- Fenomena serupa berpotensi muncul di Indonesia seiring pertumbuhan rumah tangga kecil dan urbanisasi yang mendorong efisiensi ruang.

Di tengah lesunya industri perumahan Jepang, satu segmen justru menunjukkan pertumbuhan kontras: rumah satu lantai atau bungalow. Pangsa hunian tanpa tangga ini terhadap total rumah tinggal setinggi maksimal tiga lantai naik dari 8,5% pada tahun fiskal 2016 menjadi 23,2% pada tahun fiskal 2025, menurut data terbaru Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Jepang.
Fenomena ini menarik karena terjadi saat jumlah unit rumah baru yang dibangun di Jepang terus menurun. Para pengembang menilai pergeseran preferensi ini bukan sekadar tren arsitektur, melainkan respons terhadap perubahan demografis dan gaya hidup. Rata-rata jumlah anggota rumah tangga di Jepang kini hanya 2,2 orang, turun signifikan dari 3,1 orang pada 1980-an. Rumah tangga dengan satu atau dua orang mendominasi, sehingga kebutuhan akan ruang vertikal berkurang.
Selain itu, pasangan suami-istri yang sama-sama bekerja—dual-income families—menjadi motor utama permintaan. Denah satu lantai dianggap lebih praktis: tidak perlu naik-turun tangga, memudahkan mobilitas, dan mengurangi risiko kecelakaan bagi lansia. Meski biaya pembangunan per meter persegi bungalow hampir setara dengan rumah dua lantai, dan membutuhkan lahan lebih luas, keunggulan fungsionalnya dinilai sepadan.
Menurut analis properti dari Japan Housing Association, tren ini juga dipicu oleh perubahan preferensi generasi milenial dan Gen Z yang lebih mengutamakan kenyamanan dan efisiensi waktu dibandingkan status simbol rumah bertingkat. "Mereka tidak ingin menghabiskan waktu membersihkan tangga atau kamar yang jarang dipakai. Satu lantai berarti semua ruang benar-benar terpakai," ujar seorang pengamat kepada media lokal.
Lantas, apa artinya bagi Indonesia? Meski budaya hunian di Indonesia masih didominasi rumah dua lantai—terutama di perkotaan—beberapa indikasi menunjukkan potensi pergeseran serupa. Data BPS mencatat rata-rata anggota rumah tangga Indonesia turun dari 4,0 orang (2010) menjadi 3,5 orang (2025). Keluarga dengan satu anak atau tanpa anak (DINK) semakin umum, terutama di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Pasangan muda dengan karier ganda juga mulai melirik rumah tapak minimalis yang mudah dirawat.
Namun, kendala lahan di Indonesia lebih berat. Harga tanah di pusat kota sangat tinggi, sehingga rumah satu lantai sering dianggap boros lahan. Sebagai kompromi, pengembang mulai menawarkan rumah tipe "split-level" atau rumah dengan lantai mezzanine yang tetap memberikan kesan lapang tanpa tangga penuh. Ke depannya, jika tren rumah tangga kecil terus menguat, bukan tidak mungkin bungalow versi Indonesia—mungkin dengan adaptasi tropis seperti ventilasi silang dan taman belakang—akan menjadi pilihan utama.
Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah pengembang perumahan di Indonesia siap menangkap peluang ini, atau justru akan terus memaksakan model rumah bertingkat yang mulai ditinggalkan pasar? Jawabannya akan menentukan peta persaingan industri properti dalam satu dekade ke depan.



