Rumah Satu Lantai Makin Diminati di Jepang Meski Konstruksi Perumahan Melambat
Baca dalam 60 detik
- Permintaan rumah satu lantai (bungalow) di Jepang meningkat di tengah penurunan jumlah unit hunian baru secara nasional.
- Tren ini mencerminkan perubahan preferensi masyarakat Jepang yang mengutamakan aksesibilitas, efisiensi energi, dan biaya perawatan rendah.
- Fenomena serupa mulai terlihat di kota-kota besar Indonesia, mendorong pengembang untuk menyesuaikan desain rumah tapak.

Di tengah lesunya industri perumahan Jepang yang mencatat penurunan jumlah unit baru, satu tipe hunian justru mencuri perhatian: rumah satu lantai atau bungalow. Data terbaru menunjukkan bahwa preferensi masyarakat Negeri Sakura bergeser dari rumah bertingkat ke desain yang lebih sederhana dan fungsional.
Fenomena ini terungkap dalam kuis berita harian The Mainichi yang menguji pengetahuan publik tentang tren properti. Pertanyaan yang diajukan sederhana namun mencerminkan perubahan besar: jenis rumah apa yang kian populer di Jepang meskipun konstruksi perumahan secara keseluruhan menurun? Jawabannya adalah bungalowโrumah satu lantai tanpa tangga.
Para analis properti menilai pergeseran ini didorong oleh beberapa faktor. Pertama, populasi Jepang yang menua membuat rumah tanpa anak tangga lebih ramah bagi lansia. Kedua, biaya pembangunan dan perawatan yang lebih rendah menjadi daya tarik di tengah tekanan ekonomi. Ketiga, gaya hidup minimalis yang semakin digemari generasi muda turut mendorong permintaan akan hunian yang efisien.
Konteks Indonesia: Tren serupa mulai terlihat di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Pengembang perumahan mencatat peningkatan minat terhadap rumah satu lantai, terutama dari kalangan milenial dan pensiunan. "Kami melihat permintaan untuk rumah tanpa tangga naik sekitar 20% dalam setahun terakhir," ujar seorang analis properti dari konsultan Knight Frank Indonesia. Hal ini mendorong pengembang untuk merancang klaster khusus bungalow dengan luas tanah lebih besar namun harga lebih terjangkau.
Menurut pengamat properti, tren ini juga dipicu oleh perubahan gaya hidup pascapandemi yang mengutamakan ruang terbuka dan fleksibilitas. "Rumah satu lantai memberikan kemudahan akses, terutama bagi keluarga dengan anak kecil atau lansia. Selain itu, biaya listrik dan AC lebih hemat karena volume ruangan lebih kecil," jelasnya.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah tren ini akan bertahan lama atau hanya sekadar respons terhadap kondisi ekonomi. Di Jepang, dengan populasi yang terus menua, bungalow tampaknya akan menjadi pilihan utama. Sementara di Indonesia, kombinasi antara urbanisasi dan kebutuhan akan hunian terjangkau bisa membuat rumah satu lantai semakin diminati. Namun, keterbatasan lahan di pusat kota mungkin menjadi hambatan bagi pengembang untuk memenuhi permintaan ini.



