Topan Bavi Lumpuhkan China Utara: 1.800 Warga Terjebak, Kereta Berhenti
Baca dalam 60 detik
- Topan Bavi, siklon terkuat tahun ini di China, memicu banjir bandang di Hebei dan Liaoning, merendam jalan hingga dua meter.
- Sekitar 1.800 warga Kuancheng terisolasi, sementara otoritas menghentikan operasional pabrik, bisnis, dan pertemuan umum.
- Banjir ini menguji kesiapan China menghadapi cuaca ekstrem, dengan 46 sungai meluap di atas level siaga.

Banjir bandang yang dipicu Topan Bavi melumpuhkan sebagian wilayah utara China, merendam jalan-jalan utama di Provinsi Hebei dan Liaoning hingga dua meter, menyapu kendaraan, dan memaksa ribuan warga mengungsi. Otoritas setempat menaikkan status siaga merah, menghentikan seluruh aktivitas publik di daerah terdampak.
Di Kuancheng, Hebei, sekitar 240.000 jiwa tinggal di bantaran Sungai Luan. Air bah menggenangi permukiman, menjebak 1.800 warga desa. Rekaman media sosial memperlihatkan mobil-mobil saling bertabrakan sebelum terseret arus deras. Pemerintah setempat menyatakan prioritas utama adalah evakuasi dan relokasi penduduk.
Di Liaoning, peringatan merah banjir bandang dikeluarkan. Otoritas Hebei dalam pernyataan resmi menegaskan, โSelama peringatan merah hujan lebat, seluruh penghentian kerja, penutupan bisnis, dan pengumpulan massa harus dilaksanakan sepenuhnya.โ Sekolah-sekolah di Jilin dan sekitarnya juga diliburkan.
Topan Bavi, yang luasnya setara Prancis, terbentuk di Samudra Pasifik 13 hari lalu. Struktur siklon ini tetap utuh meski sudah mendarat di China timur pada Sabtu malam, menjadikannya siklon tropis terlama di kawasan Asia-Pasifik tahun ini. Angin kencang hingga 117 km/jam diperkirakan melanda Jiangsu, disertai risiko tornado.
Dampak Bavi tidak hanya dirasakan di darat. China Railway melaporkan lebih dari 30 ruas jalur kereta di Shenyang terganggu, dengan banyak layanan dihentikan. Sementara itu, Kementerian Sumber Daya Air mencatat 46 sungai nasional mengalami banjir di atas ambang batas aman.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan meningkatnya intensitas siklon tropis di kawasan. Meskipun Indonesia jarang dilanda topan langsung, perubahan pola cuaca ekstrem global berpotensi mempengaruhi musim hujan dan risiko banjir di dalam negeri. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) perlu mewaspadai anomali cuaca yang dipicu oleh pemanasan suhu laut.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana infrastruktur dan sistem peringatan dini China mampu beradaptasi dengan siklon yang semakin kuat dan berkepanjangan. Tanpa langkah mitigasi yang lebih agresif, bencana serupa berpotensi terulang dengan skala lebih besar.



