Isu Merger BFI Finance dan Bank Jago: Manajemen Buka Suara, Pasar Menanti
Baca dalam 60 detik
- BFI Finance dan Bank Jago membantah adanya rencana merger, namun tidak menutup kemungkinan adanya komunikasi pemegang saham di luar pengetahuan publik.
- Kedua perusahaan menegaskan komitmen pada transparansi sesuai regulasi pasar modal, namun isu ini memicu spekulasi tentang konsolidasi di sektor keuangan Indonesia.
- Kolaborasi bisnis yang sudah berjalan antara BFI Finance dan Bank Jago menjadi dasar spekulasi, namun merger membutuhkan persetujuan regulator dan pemegang saham.

Spekulasi mengenai penggabungan usaha antara PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) dan PT Bank Jago Tbk (ARTO) akhirnya mendapat tanggapan resmi dari kedua belah pihak. Meski membantah adanya rencana merger, pernyataan manajemen justru membuka ruang tanya bagi investor: apakah isu ini hanya rumor belaka, atau ada skenario korporasi yang belum diumumkan?
Direktur BFI Finance, Sudjono, dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (14/7/2026), menegaskan bahwa perseroan tidak memiliki informasi terkait isu merger tersebut. Ia menyebut bahwa keputusan pemegang saham berada di luar kewenangan manajemen untuk dikomentari. "BFI Finance tidak dapat memberikan tanggapan terkait aktivitas atau keputusan para pemegang saham," ujarnya.
Senada, manajemen Bank Jago juga enggan berkomentar banyak. Dalam pernyataan kepada media pada Jumat (10/7/2026), mereka menegaskan tidak memiliki informasi mengenai merger dengan BFI Finance maupun pendekatan dari investor asing. "Perseroan tidak memiliki informasi yang dapat disampaikan terkait merger antara perseroan dengan BFI Finance," kata perwakilan Bank Jago.
Meski demikian, kedua perusahaan mengakui telah menjalin kerja sama bisnis strategis. Bank Jago, yang dikenal sebagai bank berbasis teknologi, menyebut kolaborasi dengan BFI Finance sebagai bagian dari upaya memberikan solusi keuangan yang relevan bagi nasabah. Kerja sama ini mencakup layanan pembiayaan yang terintegrasi dengan ekosistem digital Bank Jago.
Isu merger ini muncul di tengah tren konsolidasi di sektor keuangan Indonesia, di mana perusahaan pembiayaan dan bank digital saling mendekat untuk memperkuat sinergi. Analis menilai bahwa jika merger benar terjadi, entitas gabungan akan memiliki portofolio yang kuat di segmen pembiayaan ritel dan digital banking. Namun, tantangan regulasi dan perbedaan budaya korporasi bisa menjadi hambatan.
Bagi investor, sikap hati-hati manajemen menunjukkan bahwa isu ini masih bersifat spekulatif. Namun, pergerakan harga saham BFIN dan ARTO dalam beberapa hari terakhir menunjukkan adanya antisipasi pasar. Saham BFIN tercatat naik 2,3% dalam sepekan, sementara ARTO bergerak fluktuatif.
Ke depan, publik akan mencermati langkah pemegang saham utama kedua perusahaan, termasuk Grup Djarum yang memiliki saham signifikan di Bank Jago. Apakah isu ini akan berujung pada aksi korporasi nyata, atau hanya akan mereda seiring waktu? Yang jelas, transparansi dan kepatuhan terhadap regulasi pasar modal akan menjadi kunci kepercayaan investor.



