Polisi Australia Rilis Foto Baru Kasus Pembunuhan Backpacker Inggris 25 Tahun Lalu
Baca dalam 60 detik
- Polisi Northern Territory merilis foto-foto investigasi yang belum pernah dipublikasikan untuk mencari petunjuk baru soal lokasi jasad Peter Falconio.
- Pelaku Bradley Murdoch meninggal di penjara tahun lalu tanpa mengungkap tempat persembunyian jenazah, membuat keluarga korban belum mendapat kepastian.
- Hadiah hingga A$500.000 ditawarkan bagi siapa pun yang memberikan informasi mengarah pada penemuan sisa-sisa Falconio.

Polisi Australia kembali membuka lembaran lama kasus pembunuhan seorang backpacker asal Inggris, Peter Falconio, yang terjadi 25 tahun silam di kawasan terpencil Northern Territory. Dengan merilis foto-foto baru yang belum pernah diungkap ke publik, aparat berharap muncul ingatan segar dari masyarakat yang bisa mengarah pada penemuan jasad korban yang hingga kini masih hilang.
Falconio, pemuda 28 tahun asal Huddersfield, ditembak mati di sebuah ruas jalan raya sepi dekat Barrow Creek, sekitar 300 kilometer di utara Alice Springs, pada 14 Juli 2001. Pacarnya, Joanne Lees, berhasil melarikan diri setelah bersembunyi di semak belukar selama berjam-jam dan akhirnya dihentikan oleh dua sopir truk. Pelaku, Bradley Murdoch, dihukum seumur hidup pada 2005 dan meninggal di penjara akibat kanker tenggorokan pada usia 67 tahun tahun laluโtanpa pernah mengungkap lokasi jasad Falconio.
Foto-foto yang dirilis Kepolisian Northern Territory (NT Police) mencakup potret panjang Murdoch yang menatap lurus ke kamera, kondisi Joanne Lees yang tampak trauma, serta luka-luka di pergelangan tangannya akibat ikatan kabel. Ada pula gambar mobil Volkswagen Kombi oranye yang dikendarai pasangan itu, ditemukan terbengkalai di dekat lokasi kejadian. Komisaris NT Police Martin Dole menyebut pelepasan foto ini sebagai "tonggak penting" dan berharap bisa memicu ingatan publik. "Ini peristiwa traumatis bagi Ms Lees dan keluarga Peter, yang sudah terlalu lama tanpa jawaban," ujarnya.
Kasus ini sempat mengguncang Australia dan Inggris karena kebrutalannya serta misteri hilangnya jasad Falconio. Meski Murdoch telah divonis bersalah berdasarkan bukti DNA dan sidik jari, ia terus mempertahankan diri tidak bersalah hingga akhir hayat. Dua kali bandingnya ditolak. Beberapa hari lalu, polisi bahkan merilis rekaman bodycam wawancara dengan Murdoch seminggu sebelum kematiannya, dalam upaya terakhir menggali informasi lokasi jenazahโnamun gagal.
Bagi publik Indonesia, kasus ini mengingatkan pada pentingnya keamanan perjalanan jarak jauh di negara asing, terutama bagi para backpacker yang kerap melintasi rute terpencil. Meski kejadian terjadi di Australia, modus operandi pelaku yang berpura-pura menolong sebelum berbuat kejahatan bisa menjadi pelajaran berharga. Polisi NT menegaskan komitmen untuk terus menyelidiki kasus ini hingga tuntas. "Kami akan mengejar setiap kemungkinan," tegas Dole. Pertanyaan besarnya: akankah setelah seperempat abad, keluarga Falconio akhirnya bisa memakamkan jenazahnya dengan layak?



