Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Meroket ke Level Tertinggi Sebulan
Baca dalam 60 detik
- Brent dan WTI masing-masing naik 2% dan 2,1% setelah AS memberlakukan kembali blokade laut terhadap Iran.
- Serangan rudal Iran di Selat Hormuz dan ancaman Houthi di Laut Merah menambah ketidakpastian pasokan energi global.
- Eskalasi ini berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi, berdampak pada biaya impor dan subsidi energi Indonesia.

Harga minyak mentah dunia melonjak ke level tertinggi dalam sebulan terakhir pada Selasa (14/7), dipicu oleh eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz yang mengancam kelancaran arus energi global. Brent crude naik 2% menjadi 84,98 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,1% ke 79,79 dolar AS per barel. Lonjakan ini terjadi setelah AS mengumumkan pemberlakuan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran, yang langsung dibalas dengan serangan rudal terhadap kapal tanker Uni Emirat Arab (UEA) di perairan Oman.
Kementerian Pertahanan UEA mengonfirmasi bahwa dua kapal tanker milik negaranya terkena rudal jelajah Iran di jalur selatan Selat Hormuz, menewaskan satu awak asal India dan melukai delapan lainnya. Serangan ini menandai eskalasi signifikan setelah kedua negara menandatangani nota kesepahaman pada 17 Juni lalu. Di sisi lain, Komando Pusat AS melaporkan telah melancarkan serangan udara terhadap Iran untuk malam ketiga berturut-turut, sementara ledakan terdengar di kota pelabuhan Bandar Abbas dan Pulau Kish.
Ketegangan di Selat Hormuzโjalur vital yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak duniaโkembali memicu kekhawatiran pasar. Analis KCM Trade, Tim Waterer, menilai bahwa pemberlakuan blokade oleh AS dan respons Iran telah menyuntikkan risiko baru ke pasar. "Meskipun penutupan total belum terjadi, tujuan yang saling bertentangan dari kedua belah pihak membuat gambaran pasokan sangat tidak pasti," ujarnya. Sementara itu, harga minyak melonjak 9,6% pada sesi sebelumnya, rekor kenaikan harian terbesar sejak Mei 2020.
Ancaman tidak hanya datang dari Selat Hormuz. Gerakan Houthi Yaman kembali meluncurkan rudal ke Arab Saudi setelah menuduh Riyadh mengebom bandara yang dikuasainya. Simon Wong, manajer portofolio di Gabelli Funds, memperingatkan bahwa jika Houthi memperluas serangan ke produk minyak mentah Saudi di Laut Merah, ketidakpastian aliran minyak dari kawasan itu akan semakin meningkat. Laut Merah merupakan jalur alternatif penting bagi kapal tanker yang menghindari Selat Hormuz.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak ini berpotensi menekan anggaran subsidi energi dan memperlebar defisit neraca perdagangan. Sebagai importir minyak bersih, setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel diperkirakan menambah beban impor hingga triliunan rupiah. Pemerintah pun dihadapkan pada dilema: menaikkan harga BBM bersubsidi atau menambah beban APBN. Eskalasi di Timur Tengah juga mengingatkan pada krisis 2019 ketika serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi sempat memangkas produksi global hingga 5%.
Di sisi lain, pasar juga mencermati data stok minyak mentah AS yang diperkirakan turun pekan lalu, sementara stok bensin dan distilat kemungkinan naik. Kombinasi antara ketegangan geopolitik dan fundamental pasar yang ketat membuat prospek harga minyak dalam jangka pendek masih rentan terhadap kejutan. Pertanyaan besarnya: akankah AS dan Iran mampu menahan diri sebelum konflik benar-benar mengganggu pasokan global, atau justru sebaliknya?



