Bangunan Bersejarah SDN Pondok Cina 1 Depok Diratakan, Proyek Rumah Kreatif Anak Istimewa Jadi Pengganti
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Kota Depok merobohkan bangunan SDN Pondok Cina 1 yang telah berdiri sejak 1960-an untuk proyek Rumah Kreatif Anak Istimewa senilai Rp15,7 miliar.
- Polemik berkepanjangan sejak 2022 berujung pada pembatalan rencana awal pembangunan Masjid Raya Depok setelah gugatan wali murid kandas di pengadilan.
- Warga sekitar menyayangkan pembongkaran dan mempertanyakan transparansi anggaran serta visi di balik alih fungsi lahan sekolah tersebut.

Bangunan tua SD Negeri Pondok Cina 1 di Jalan Margonda, Depok, akhirnya rata dengan tanah pada Senin (13/7) setelah menjadi pusaran polemik yang berlangsung lebih dari dua tahun. Kini, di lokasi eks sekolah yang telah berdiri sejak era 1960-an itu, Pemerintah Kota Depok berencana mendirikan Rumah Kreatif Anak Istimewa dengan anggaran Rp15,7 miliar.
Proses pembongkaran menggunakan alat berat berlangsung cepat. Para pekerja kemudian membersihkan puing-puing untuk diangkut menggunakan kendaraan bak terbuka. Pagar sekolah kini tertutup seng, dan sebuah papan proyek terpampang di lokasi, bertuliskan "Pembangunan dan penataan lingkungan rumah kreatif anak istimewa." Proyek ini ditargetkan rampung dalam 165 hari.
Keputusan pembongkaran ini merupakan babak akhir dari sengketa yang dimulai pada 2022, saat Pemkot Depok berencana membongkar sekolah untuk pembangunan Masjid Raya Depok. Rencana itu memicu penolakan keras dari orang tua murid yang khawatir pendidikan anak-anak mereka terganggu. Sebagian orang tua menggugat Wali Kota Depok saat itu, Mohammad Idris, ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung dan Jakarta, namun gugatan ditolak. Mereka juga melapor ke polisi, Ombudsman, dan Komnas HAM.
Di tengah konflik, seluruh siswa SDN Pocin 1 dipindahkan ke gedung SDN Pocin 5, yang kemudian berganti nama menjadi SDN Pocin 1. Upaya hukum terakhir melalui kasasi ke Mahkamah Agung pun belum membuahkan hasil. Setelah rencana masjid batal, bangunan sekolah kosong terbengkalai hingga akhirnya Wali Kota Depok Supian Suri memutuskan alih fungsi menjadi rumah kreatif bagi anak berkebutuhan khusus.
Warga sekitar, seperti Agus Dowan yang bekerja sebagai pengemudi ojek online, mengaku kecewa. "Kecewalah," ujarnya di lokasi eks sekolah, Senin (13/7). Menurut Agus, sekolah ini telah melahirkan banyak alumni selama puluhan tahun. Ia menilai alih fungsi menjadi rumah kreatif bukan solusi bijak dan mendesak Pemkot Depok memberikan penjelasan transparan kepada publik. "Jangan sampai nanti jadi warga punya pikiran, 'Ah, ini mah simulasi, kamuflase doang ini biar budget turun'," imbuhnya, meragukan keseriusan proyek tersebut.
Pertanyaan publik kini tertuju pada efektivitas dan transparansi proyek Rumah Kreatif Anak Istimewa. Akankah fasilitas ini benar-benar menjawab kebutuhan anak istimewa di Depok, atau justru menjadi proyek kontroversial baru yang menyisakan luka bagi warga yang kehilangan sekolah bersejarah mereka?



