Timbunan Sampah Runtuh di Pabrik Pengolahan India, 9 Tewas
Baca dalam 60 detik
- Longsoran sampah setinggi ribuan ton di pabrik pengolahan limbah Pune, India, menewaskan sembilan pekerja dan melukai belasan lainnya.
- Musim hujan yang ekstrem menjadi pemicu utama ambruknya timbunan sampah yang tidak stabil, memperparah risiko kecelakaan kerja di sektor informal.
- Insiden ini menyoroti lemahnya standar keselamatan di fasilitas pengolahan sampah, yang juga relevan dengan kondisi sejumlah TPA di Indonesia.

Sembilan pekerja tewas setelah tumpukan sampah setinggi ribuan ton runtuh menimpa gedung administrasi di pabrik pengolahan sampah menjadi energi di pinggiran Pune, India, Rabu pekan lalu. Peristiwa ini kembali mengungkap kerentanan keselamatan kerja di sektor pengelolaan limbah, terutama saat musim hujan yang kerap memicu bencana.
Menurut pernyataan resmi operator pabrik, Antony Waste, longsoran terjadi akibat hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut selama beberapa hari. Timbunan sampah dari tempat pembuangan akhir (TPA) di dekat pabrik kehilangan stabilitas dan ambrol, menghancurkan sebagian besar bangunan tempat 23 orang tengah bekerja. Tim penyelamat berhasil mengevakuasi 14 orang dalam kondisi selamat, sementara sembilan lainnya ditemukan tewas di bawah reruntuhan.
Proses pencarian sempat terhambat oleh hujan yang terus mengguyur, menyulitkan petugas untuk menjangkau korban yang tertimbun. Pihak berwenang setempat mengonfirmasi bahwa operasional pabrik dihentikan sementara hingga evaluasi struktural dan keselamatan selesai dilakukan.
Kecelakaan konstruksi dan bangunan saat musim hujan di India—yang berlangsung Juni hingga September—bukanlah hal baru. Banyak struktur tua dan rapuh ambruk akibat guyuran hujan berkepanjangan. Namun, insiden di pabrik pengolahan sampah ini menyoroti risiko khusus yang dihadapi pekerja di sektor pengelolaan limbah, di mana tumpukan sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi bom waktu.
Di Indonesia, peristiwa serupa pernah terjadi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, Bandung, pada 2005, yang menewaskan lebih dari 140 orang akibat longsoran sampah. Meski teknologi pengolahan sampah menjadi energi mulai dikembangkan di beberapa kota, standar keselamatan dan pengelolaan TPA masih menjadi pekerjaan rumah. Menurut analis lingkungan dari Universitas Indonesia, faktor utama penyebab longsor sampah adalah akumulasi gas metana dan infiltrasi air hujan yang meningkatkan tekanan pori dalam timbunan.
“Insiden di Pune mengingatkan bahwa investasi pada infrastruktur pengolahan sampah harus diimbangi dengan sistem keselamatan yang ketat, terutama di negara tropis dengan curah hujan tinggi,” ujar pengamat kebijakan publik yang enggan disebut namanya. Ia menambahkan bahwa Indonesia perlu segera mengadopsi standar operasi yang lebih ketat untuk TPA dan pabrik pengolahan sampah guna mencegah tragedi serupa.
Ke depan, pertanyaan besar yang mengemuka adalah apakah regulator di India dan negara berkembang lainnya akan memperketat pengawasan terhadap fasilitas pengolahan limbah, atau justru insiden ini akan kembali terlupakan begitu musim hujan berlalu.



