Trump Umumkan Blokade Iran di Selat Hormuz, Tarif 20% untuk Semua Kargo
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump memulihkan blokade terhadap pelayaran Iran dan menyatakan AS sebagai 'Penjaga Selat Hormuz' dengan pungutan 20% dari nilai kargo yang melintas.
- Iran menolak klaim AS dan menegaskan kendali penuh atas selat tersebut, sementara harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 5% akibat ketidakpastian baru.
- Eskalasi ini mengancam gencatan senjata sementara yang disepakati bulan lalu dan berpotensi memicu gangguan pasokan energi global, termasuk dampak pada harga BBM di Indonesia.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi mengumumkan pemulihan blokade terhadap pelayaran Iran di Teluk Persia dan menetapkan bahwa Selat Hormuz akan tetap terbuka—dengan tarif 20 persen untuk semua kargo yang melintas. Langkah ini diambil setelah kedua pihak saling melancarkan serangan rudal dan drone, serta menyusul pernyataan Iran akhir pekan lalu yang menutup selat strategis tersebut.
Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa AS mulai saat ini akan dikenal sebagai 'Penjaga Selat Hormuz' dan akan menerima imbalan atas peran tersebut. “Selat Hormuz BUKA, dan akan tetap BUKA, dengan atau tanpa Iran. Kami memulihkan BLOKADE IRAN,” tulisnya. Trump menambahkan bahwa tarif 20 persen itu adalah soal keadilan, mengingat negara-negara lain yang diuntungkan dari jalur pelayaran ini tergolong sangat kaya.
Iran langsung merespons dengan tegas. Komando militer gabungan Iran menyatakan bahwa AS tidak memiliki peran dalam menentukan masa depan Hormuz dan tidak akan diizinkan campur tangan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menulis di platform X bahwa Teheran adalah penjaga selat tersebut selamanya, dan menanggapi usulan Trump dengan nada sinis: “20 persen tentu terlalu banyak. Kami akan bersikap adil.”
Badan pelayaran PBB menolak gagasan pungutan tersebut, menekankan tidak ada dasar hukum untuk memberlakukan tol wajib pada selat yang digunakan untuk navigasi internasional. Meski Trump sebelumnya pernah melontarkan ide serupa, belum ada realisasi, dan ketidakjelasan ini menambah ketidakpastian di pasar energi.
Pusat Informasi Maritim Gabungan yang dipimpin Angkatan Laut AS mengatakan blokade akan mulai berlaku pada Selasa pukul 20.00 GMT dan mencakup semua lalu lintas kapal tanpa memandang bendera, meliputi seluruh pesisir Iran termasuk pelabuhan dan terminal minyak. Namun, langkah ini disebut tidak akan menghalangi transit netral menuju atau dari tujuan non-Iran, dan pengiriman kemanusiaan diizinkan dengan syarat inspeksi.
Eskalasi ini mengancam kesepakatan sementara AS-Iran yang ditandatangani bulan lalu untuk membuka kembali selat dan menghentikan permusuhan. Trump menyatakan gencatan senjata sudah berakhir, namun masih membuka pintu untuk perundingan lebih lanjut. “Kami punya kesepakatan. Itu sudah jadi, lalu mereka melanggarnya. Mereka selalu melanggar. Kami sudah punya 10 kesepakatan dengan mereka, jadi kami akan menghajar mereka dengan keras,” katanya dalam wawancara dengan Fox News.
Di sisi lain, negosiator utama Iran Mohammad Baqer Qalibaf menulis di X: “Era kesepakatan sepihak SUDAH BERAKHIR. Kami sudah bilang: tepati janji atau bayar harganya.” Perang yang diluncurkan AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari telah mengguncang kawasan Teluk dan meluas ke berbagai negara, dengan Iran menyerang pangkalan AS di beberapa lokasi.
Bagi Indonesia, ketegangan di Selat Hormuz memiliki implikasi langsung. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap gangguan pasokan global berpotensi mendorong kenaikan harga BBM dalam negeri, yang pada gilirannya mempengaruhi inflasi dan daya beli masyarakat. Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan ini, terutama karena harga energi yang lebih tinggi juga menjadi isu sensitif menjelang pemilu kongres AS pada November, yang bisa mempengaruhi kebijakan luar negeri Washington.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah AS benar-benar akan menerapkan tarif tersebut dan bagaimana respons Iran selanjutnya. Dengan kedua pihak sama-sama bersikeras pada posisi mereka, prospek stabilitas Selat Hormuz—dan pasar energi global—masih diselimuti ketidakpastian.



