Inter Batal Gaet Khalaili Gagal Lolos Tes Medis CONI, Marotta: Aturan Sangat Ketat
Baca dalam 60 detik
- Inter Milan membatalkan transfer Anan Khalaili senilai €30 juta setelah pemain Israel itu gagal dalam tes medis ketat yang diwajibkan Komite Olimpiade Italia (CONI).
- Kegagalan tes kardiologi ini memaksa Inter mencari pengganti Denzel Dumfries yang hengkang ke Real Madrid, sementara Khalaili harus kembali ke Union Saint-Gilloise untuk penanganan medis.
- Kasus ini mengingatkan pada aturan ketat Italia yang pernah memaksa pemain dengan defibrillator seperti Christian Eriksen meninggalkan Serie A.

Presiden Inter Milan, Beppe Marotta, mengonfirmasi bahwa transfer Anan Khalaili dari Union Saint-Gilloise senilai €30 juta resmi batal setelah pemain sayap Israel itu gagal menjalani tes medis yang diwajibkan oleh Komite Olimpiade Italia (CONI). “Aturannya sangat ketat,” ujar Marotta dalam konferensi pers, Selasa (14/5).
Kesepakatan awal antara kedua klub telah mencapai €25 juta plus bonus tambahan. Khalaili bahkan telah melewati tes medis internal klub tanpa kendala. Namun, sebelum bergabung dengan klub Italia, setiap pemain asing wajib menjalani tes stres kardiologi CONI yang lebih ketat. Hasil tes tersebut menunjukkan adanya ketidakberesan pada kondisi jantung pemain berusia 22 tahun itu.
Pihak Inter sempat memberikan kesempatan kedua dengan menjalani tes ulang pada hari yang sama. Namun, Marotta mengumumkan bahwa CONI telah memutuskan untuk tidak memberikan sertifikat kelayakan, sehingga Khalaili tidak diizinkan tampil dalam ajang resmi apa pun di Italia. “Ini bukan keputusan klub, kami hanya harus menerima karena ini menyangkut kesehatan pemain,” tegas Marotta.
Khalaili direncanakan menjadi suksesor Dumfries yang memilih bergabung dengan Real Madrid. Marotta mengakui bahwa kepindahan Dumfries ke klub sebesar Real Madrid sulit ditolak. Namun, ia juga menyoroti semakin mahalnya harga pemain di pasar global yang membuat klub Italia hanya menjadi penonton. “Beberapa biaya transfer yang beredar saat ini sangat gila, membuat sepak bola Italia hanya menjadi spektator dibanding peran kami di masa lalu,” keluh Marotta.
Inter sebelumnya juga nyaris mencapai kesepakatan senilai €50 juta dengan Atalanta untuk Marco Palestra, namun tawaran tersebut kalah bersaing dengan proposal yang jauh lebih besar dari Chelsea. Kegagalan demi kegagalan ini memaksa Inter harus segera mencari alternatif di bursa transfer musim panas.
Bagi Khalaili, kegagalan ini menjadi pukulan berat. Ia harus kembali ke Union Saint-Gilloise dan berkonsultasi dengan staf medis klub untuk penanganan lebih lanjut. Aturan Italia yang sangat ketat dalam hal kesehatan pemain memang telah menjadi batu sandungan bagi beberapa pemain sebelumnya. Kasus Christian Eriksen yang harus pindah ke Brentford setelah mengalami henti jantung di Euro 2020 menjadi contoh paling nyata.
Ke depan, Inter harus bergerak cepat untuk mengisi posisi bek kanan yang ditinggalkan Dumfries. Apakah mereka akan kembali ke bursa pemain muda atau justru melirik opsi lain yang lebih terjangkau? Persaingan di Serie A musim depan semakin ketat, dan kegagalan transfer ini bisa menjadi pukulan telak bagi ambisi Inter.



