Andoni Iraola Siap Bangkitkan Kembali Kejayaan Liverpool: 'Saya Ingin Memberi Tim yang Dibanggakan'
Baca dalam 60 detik
- Pelatih asal Spanyol, Andoni Iraola, resmi menangani Liverpool dengan kontrak dua tahun setelah sukses membawa Bournemouth ke Eropa.
- Iraola bertekad mengembalikan intensitas permainan Liverpool yang loyo musim lalu dengan filosofi high-press dan vertikalitas.
- Manajer berusia 44 tahun itu juga memberi kesempatan kepada Harvey Elliott yang gagal di Aston Villa untuk membuktikan diri pada pramusim.

Andoni Iraola secara resmi diperkenalkan sebagai manajer anyar Liverpool dalam konferensi pers pertamanya, Senin (10/6), dengan tekad membangkitkan kembali gairah Anfield yang sempat meredup musim lalu. Pelatih asal Spanyol berusia 44 tahun itu meneken kontrak dua pekan lalu setelah tiga musim gemilang bersama Bournemouth, termasuk membawa The Cherries lolos ke kompetisi Eropa untuk pertama kalinya.
Liverpool finis di peringkat kelima Premier League musim 2024/25, hanya satu tingkat di atas Bournemouth yang diasuh Iraola. Performa tim asuhan Arne Slot—yang dipecat pada 30 Mei lalu—dinilai kurang dinamis oleh para pendukung. Iraola pun sadar bahwa untuk mendapatkan dukungan penuh dari publik Anfield, timnya harus tampil memukau di atas lapangan terlebih dahulu.
“Sepak bola, terutama di Liverpool, adalah tentang koneksi—terhubung dengan masyarakat, dengan suporter,” ujar Iraola. “Saya pernah merasakan atmosfer Anfield saat gol Federico Chiesa musim lalu. Saya ingin itu terjadi di setiap pertandingan, tapi itu harus datang dari kami, dari dalam lapangan. Kami harus menjadi tim yang bekerja keras, intens, agresif, dan vertikal, sehingga semua orang bisa mengidentifikasi dan nyaman mendukung tim ini.”
Iraola mengaku sudah berbicara dengan sebagian besar pemain Liverpool dan mendapat respons positif. Sebagian besar skuad utama akan kembali ke Merseyside pada Selasa (11/6), sementara pemain yang berlaga di Piala Dunia 2026—seperti Alexis Mac Allister (Argentina) dan Victor Munoz (Spanyol)—masih bergabung kemudian. “Secara egois, saya ingin semua pemain hadir sejak hari pertama, tapi saya paham sepak bola tidak berjalan seperti itu,” katanya.
Salah satu sorotan adalah nasib Harvey Elliott. Gelandang 23 tahun itu menjalani masa pinjaman yang mengecewakan di Aston Villa musim lalu, hanya tampil lima kali di liga—jauh dari syarat 10 pertandingan yang memicu kewajiban pembelian permanen senilai £35 juta. Manajer Villa, Unai Emery, bahkan menyebut situasi itu “memalukan bagi semua pihak”. Iraola menilai pengalaman pahit itu justru bisa menjadi motivasi bagi Elliott untuk kembali bersinar di Liverpool.
Di balik ambisi besarnya, Iraola tampil rendah hati dalam konferensi pers. Ia mengaku siap menghadapi sorotan media yang lebih besar, namun tetap ingin menjadi dirinya sendiri. “Saya tidak akan hidup dalam gelembung—hanya di tempat latihan dan rumah. Saya juga ingin menjelajahi kota, merasakan atmosfernya. Itulah bagian dari keajaiban menjadi manajer Liverpool,” ujarnya.
Filosofi permainan Iraola yang mengandalkan pressing tinggi dan serangan vertikal diyakini cocok dengan tradisi Liverpool. Namun, tantangan terbesarnya adalah mentransfer gaya tersebut ke skuad yang secara fisik kesulitan musim lalu. Dengan jadwal pramusuh yang padat—termasuk tur ke Amerika Serikat untuk menghadapi Sunderland, Wrexham, dan Leeds United—Iraola harus segera menemukan formula yang tepat.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, langkah Iraola menanangi Liverpool menjadi sorotan karena gaya bermainnya yang atraktif kerap dibandingkan dengan pendahulunya, Juergen Klopp. Pertanyaannya, mampukah pelatih asal Basque ini membawa kembali era keemasan Anfield dalam waktu singkat?



